KLIKINAJA – Lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus 118 dolar AS per barel memicu perhatian banyak pihak. Namun pemerintah memastikan kondisi tersebut tidak akan memengaruhi harga BBM bersubsidi jenis Pertalite di Indonesia, setidaknya hingga perayaan Idul Fitri tahun ini.
Kepastian itu di sampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Ia menegaskan pemerintah tetap menjaga stabilitas harga bahan bakar bersubsidi demi melindungi daya beli masyarakat selama Ramadan.
“Sampai menjelang Hari Raya Idul Fitri, Insya Allah harga BBM subsidi tidak mengalami kenaikan,” kata Bahlil dalam keterangannya pada Senin (9/3/2026).
Selain menyinggung harga, Bahlil juga memastikan ketersediaan pasokan energi dalam kondisi aman.
“Pasokan bahan bakar aman. Untuk kebutuhan selama Ramadan sampai Lebaran tidak ada persoalan,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tidak melakukan pembelian bahan bakar secara berlebihan.
“Masyarakat tidak perlu khawatir atau melakukan panic buying. Distribusi dan stok BBM sudah di persiapkan,” tegasnya.
Pasokan BBM Dijamin Aman Selama Ramadan
Pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi peningkatan konsumsi energi selama bulan puasa hingga Idul Fitri. Periode tersebut memang identik dengan lonjakan mobilitas masyarakat, baik untuk perjalanan mudik maupun aktivitas ekonomi lainnya.
Kementerian ESDM bersama perusahaan energi nasional terus memantau distribusi BBM agar tetap berjalan lancar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan langkah ini, masyarakat di harapkan tetap tenang karena kebutuhan bahan bakar di pastikan tercukupi.
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak
Sementara itu, kenaikan harga minyak dunia di picu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Media internasional Sputnik melaporkan harga minyak mentah jenis Brent menyentuh 118 dolar AS per barel, tertinggi sejak 17 Juni 2022.
Lonjakan tersebut terjadi di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu di laporkan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar dan memicu aksi balasan dari Iran.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangkaian serangan yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat, fasilitas diplomatik, hingga beberapa kota di Israel. Eskalasi konflik tersebut membuat pasar energi global bereaksi cepat.
Pada Minggu (8/3), serangan udara kembali terjadi dan menargetkan fasilitas penyimpanan minyak Iran di sekitar Teheran. Salah satu lokasi yang dilaporkan mengalami kerusakan serius adalah Depo Minyak Shahran, salah satu pusat penyimpanan minyak penting di negara tersebut.
Serangan terhadap infrastruktur energi ini semakin memperkuat kekhawatiran pasar global dan ikut mendorong harga minyak dunia merangkak naik.(Tim)









