KLIKINAJA.COM – Pemerintah Kota Jambi memperkuat pelaksanaan Program Gerakan Ayo Mengaji sebagai langkah serius meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an di kalangan pelajar. Program ini difokuskan pada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan harapan tidak ada lagi pelajar yang mengalami buta aksara Al-Qur’an.
Wali Kota Jambi Maulana menyampaikan bahwa penguatan literasi Al-Qur’an merupakan bagian dari upaya membangun karakter generasi muda yang berlandaskan nilai keimanan dan akhlak. Pemerintah daerah menilai pendidikan keagamaan perlu mendapat ruang lebih besar di lingkungan sekolah.
“Kami ingin kemampuan membaca Al-Qur’an menjadi bekal dasar bagi para siswa. Pendidikan karakter tidak bisa di lepaskan dari nilai-nilai keimanan,” kata Maulana di Jambi, Rabu.
Program Gerakan Ayo Mengaji saat ini telah diterapkan di sejumlah SMP di Kota Jambi. Pemerintah daerah menilai pelaksanaannya mulai menunjukkan perkembangan, meskipun masih membutuhkan penguatan di berbagai aspek.
Evaluasi Program di Sekolah
Berdasarkan laporan yang di terima pemerintah kota, program tersebut sudah berjalan di 12 dari total 26 SMP yang ada di Kota Jambi. Cakupan ini akan terus di perluas agar seluruh sekolah dapat menerapkan kegiatan serupa.
Hasil evaluasi sementara menunjukkan bahwa sekitar 48,4 persen siswa masih berada pada tahap Iqro 1 dan Iqro 2. Kondisi ini menandakan masih banyak pelajar yang membutuhkan pembinaan lebih intensif agar mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.
“Data ini menjadi perhatian kami. Artinya, pembinaan harus di perkuat agar kemampuan membaca Al-Qur’an siswa bisa meningkat secara bertahap,” ujar Maulana.
Untuk mempercepat capaian tersebut, Pemkot Jambi mendorong kolaborasi yang lebih erat antara sekolah, relawan, serta para guru pendidikan agama. Dukungan fasilitas belajar juga menjadi fokus perhatian agar proses pembelajaran berjalan optimal.
Potensi Jadi Muatan Lokal Pendidikan
Pemkot Jambi kini juga mengkaji kemungkinan menjadikan Gerakan Ayo Mengaji sebagai bagian dari muatan lokal pendidikan di sekolah. Jika di terapkan, materi pembelajaran tidak hanya menekankan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga di integrasikan dengan nilai adat dan budaya daerah.
Langkah ini di nilai selaras dengan visi pembangunan Kota Jambi yang menempatkan nilai religius dan budaya sebagai fondasi dalam pembentukan masyarakat.
Maulana juga mengingatkan para kepala sekolah agar memberi perhatian khusus terhadap program ini, termasuk dengan memperkuat peran guru tahfidz dan guru agama dalam kegiatan belajar.
“Kami berharap dukungan sekolah semakin kuat, sehingga ke depan tidak ada lagi siswa SMP negeri di Kota Jambi yang belum mampu membaca Al-Qur’an,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Gerakan Ayo Mengaji (Gerami) Kota Jambi, Masturo, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah daerah yang terus konsisten menjalankan program tersebut.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci penting untuk memberantas buta aksara Al-Qur’an di kalangan generasi muda.
“Kolaborasi ini memberi dampak positif bagi pembinaan karakter pelajar sekaligus menyiapkan generasi yang berakhlak mulia di masa depan,” kata Masturo.
Program Gerakan Ayo Mengaji sendiri telah lama di;gagas sebagai gerakan sosial dan pendidikan yang mendorong masyarakat, khususnya pelajar, untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an. Di sejumlah daerah di Indonesia, gerakan serupa terbukti mampu meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an sekaligus memperkuat pendidikan karakter.









