KLIKINAJA.COM – Dalam beberapa hari terakhir warga Jakarta dan wilayah sekitarnya merasakan suhu udara yang lebih menyengat di banding biasanya. Kondisi tersebut memicu banyak keluhan masyarakat, terutama saat beraktivitas di siang hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun memberikan penjelasan mengenai fenomena cuaca tersebut. Menurut lembaga tersebut, peningkatan suhu yang terjadi saat ini masih berkaitan dengan perubahan pola cuaca menjelang musim kemarau.
Pelaksana Tugas Deputi Meteorologi BMKG, Dr. Andri Ramdhani, menyebutkan suhu yang terasa lebih panas di pengaruhi beberapa faktor meteorologis yang terjadi secara bersamaan.
Tutupan Awan Berkurang, Radiasi Matahari Lebih Maksimal
Andri menjelaskan salah satu faktor utama meningkatnya suhu di Jakarta adalah berkurangnya tutupan awan di langit. Ketika awan menipis, radiasi matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi tanpa banyak penghalang.
Menurutnya, kondisi atmosfer seperti ini membuat energi panas dari matahari terserap lebih besar oleh permukaan tanah, bangunan, dan jalanan.
Ia menggambarkan bahwa ketika langit siang hari terlihat lebih cerah, proses pemanasan permukaan juga menjadi lebih kuat. Hal tersebut yang membuat suhu udara terasa lebih tinggi di banding hari-hari sebelumnya.
Pergerakan Angin Lemah Saat Masa Pancaroba
BMKG juga mencatat kecepatan angin di wilayah Jakarta relatif lemah dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat sirkulasi udara tidak berjalan optimal sehingga panas yang sudah terakumulasi di permukaan tidak mudah terurai.
Fenomena seperti ini cukup umum terjadi ketika Indonesia memasuki masa peralihan musim atau pancaroba. Pada periode tersebut, cuaca sering berubah-ubah, namun siang hari cenderung lebih cerah.
Situasi inilah yang menyebabkan panas matahari terasa lebih intens, terutama di kawasan perkotaan yang padat aktivitas.
Efek Pulau Panas Perkotaan Perkuat Suhu Jakarta
Selain faktor cuaca, suhu panas di Jakarta juga di perkuat oleh fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan. Fenomena ini terjadi ketika kawasan kota menyerap dan menyimpan panas lebih lama di banding wilayah dengan banyak vegetasi.
Bangunan beton, jalan beraspal, serta minimnya ruang terbuka hijau membuat panas terperangkap di lingkungan perkotaan. Akibatnya, suhu di kota besar seperti Jakarta cenderung lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya.
BMKG memperkirakan kondisi panas pada siang hari masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika tutupan awan tetap minim.
Wilayah Jakarta dan sekitarnya juga di prakirakan mulai memasuki awal musim kemarau pada April hingga Mei 2026. Dengan semakin seringnya langit cerah pada siang hari, suhu udara berpotensi terasa lebih panas di bandingkan saat musim hujan.
Cuaca panas yang berlangsung cukup lama dapat memengaruhi kesehatan masyarakat. Risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga penurunan daya tahan tubuh bisa meningkat jika tubuh tidak mendapatkan cairan yang cukup.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak minum air putih, mengurangi aktivitas berat saat matahari berada di puncaknya, serta menggunakan pelindung seperti topi, payung, atau tabir surya ketika berada di luar ruangan.(Tim)









