KLIKINAJA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum keluar dari tekanan. Dalam beberapa waktu terakhir, indeks acuan pasar modal Indonesia itu terus bergerak di zona negatif. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap percaya diri, target IHSG di level 10.000 pada 2026 masih dalam jangkauan.
Pernyataan tersebut ia sampaikan usai menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (16/3). Dengan nada optimistis, Purbaya menegaskan bahwa arah IHSG masih memiliki potensi naik signifikan hingga akhir tahun.
Ia menggambarkan peluang tersebut tetap terbuka, seiring kondisi ekonomi nasional yang di nilai stabil dan memiliki daya tahan kuat di banding sejumlah negara lain, termasuk anggota G20.
Menurut Purbaya, pengelolaan fiskal yang disiplin menjadi salah satu kunci. Defisit anggaran yang tetap terkendali memberi ruang bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih agresif tanpa mengorbankan stabilitas.
Pasar Melemah, Momentum bagi Investor
Di tengah tekanan global, termasuk memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran, pasar saham Indonesia ikut terdampak. Meski begitu, situasi ini justru di nilai sebagai peluang bagi pelaku pasar.
Purbaya mendorong investor untuk memanfaatkan fase koreksi dengan mengoleksi saham-saham berfundamental kuat. Ia menilai, pengalaman Indonesia dalam menghadapi gejolak ekonomi global sebelumnya menjadi modal penting untuk bertahan.
Ia menekankan bahwa ketahanan ekonomi nasional sudah teruji, termasuk saat menghadapi lonjakan harga komoditas seperti minyak. Pengalaman tersebut membuat respons kebijakan menjadi lebih matang.
IHSG Ditutup Melemah
Pada penutupan perdagangan Senin (16/3), IHSG terkoreksi cukup dalam. Indeks turun 114,92 poin atau 1,61 persen ke posisi 7.022,29.
Secara kumulatif, penurunan IHSG sepanjang tahun berjalan mencapai 19,73 persen. Dalam kurun satu bulan terakhir saja, koreksi tercatat sekitar 15,50 persen.
Sejak sesi pembukaan pagi, IHSG sudah berada di zona merah dan tidak mampu keluar hingga penutupan perdagangan.
Mayoritas Sektor Terkoreksi
Berdasarkan data indeks sektoral IDX-IC, tekanan terjadi di hampir seluruh sektor. Penurunan paling dalam di alami sektor properti yang melemah 2,33 persen.
Sektor energi dan bahan baku menyusul dengan penurunan masing-masing 2,29 persen dan 1,66 persen. Di sisi lain, beberapa sektor masih mencatat penguatan terbatas.
Sektor kesehatan naik tipis 0,12 persen, sementara sektor barang konsumen non-primer menguat sekitar 0,02 persen.
Aktivitas Perdagangan Tetap Tinggi
Meski indeks melemah, aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia tetap ramai. Tercatat lebih dari 1,67 juta transaksi terjadi dengan volume perdagangan mencapai 32,05 miliar lembar saham.
Nilai transaksi harian menyentuh Rp15,92 triliun. Dari total saham yang di perdagangkan, 180 saham mencatat kenaikan, 542 saham turun, dan 98 saham tidak mengalami perubahan harga.
Tingginya aktivitas ini menunjukkan minat investor masih terjaga, meskipun pasar sedang dalam fase konsolidasi.
Bursa Asia Bergerak Variatif
Pergerakan bursa saham di kawasan Asia menunjukkan arah yang tidak seragam. Indeks Nikkei tercatat melemah tipis 0,13 persen, sementara Shanghai turun 0,26 persen.
Di sisi lain, Hang Seng justru menguat 1,45 persen dan Straits Times naik 0,55 persen, mencerminkan sentimen pasar global yang masih beragam.
Di tengah kondisi ini, sejumlah analis menilai level IHSG saat ini mulai mendekati area menarik untuk akumulasi jangka panjang. Koreksi yang cukup dalam membuka peluang bagi investor untuk masuk secara bertahap, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan fundamental solid.
Namun, tetap diperlukan kehati-hatian. Faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga global, konflik geopolitik, serta pergerakan harga komoditas masih menjadi penentu utama arah pasar dalam jangka pendek. Investor di sarankan untuk tidak hanya mengandalkan sentimen, tetapi juga mempertimbangkan kinerja emiten dan diversifikasi portofolio.(Tim)









