KLIKINAJA.COM – Warga Jambi di perkirakan tetap bisa menjalankan aktivitas selama libur Idul Fitri 1447 Hijriah dengan relatif nyaman. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan kondisi cuaca di wilayah ini cenderung stabil, meski hujan ringan masih berpotensi turun di sejumlah daerah.
Kepala BMKG Jambi, Ibnu Sulistyo, menyampaikan bahwa periode menjelang lebaran, tepatnya pada 16 hingga 18 Maret 2026, masih di warnai hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Kondisi ini merupakan bagian dari pola cuaca peralihan yang masih berlangsung di wilayah Sumatera.
Potensi Hujan dan Cuaca Berawan Saat Lebaran
Memasuki hari-hari libur, yakni 19 hingga 22 Maret 2026, langit Jambi di perkirakan lebih sering tertutup awan. Hujan ringan di prediksi tetap terjadi, namun tidak dalam skala yang mengganggu aktivitas masyarakat secara luas.
Ibnu menilai kondisi ini masih tergolong aman untuk berbagai kegiatan, termasuk mobilitas warga selama momen mudik dan silaturahmi lebaran.
“Saat momen Idul Fitri, cuaca di Jambi cenderung berawan dengan peluang hujan ringan, namun masih cukup mendukung aktivitas masyarakat,” jelasnya.
BMKG juga menyoroti adanya potensi kenaikan tinggi muka air laut pada 23 hingga 26 Maret 2026. Wilayah pesisir timur Jambi, terutama di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat, di minta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang mungkin muncul.
Pola hujan di daerah ini umumnya terjadi pada sore hingga menjelang malam, serta pada dini hari. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu menyesuaikan aktivitas, terutama bagi yang bepergian jarak jauh.
Ancaman Kemarau Dini dan Risiko Karhutla
Di balik kondisi cuaca yang relatif bersahabat saat lebaran, BMKG mengingatkan adanya potensi musim kemarau yang datang lebih cepat pada tahun ini. Perkiraan menunjukkan awal kemarau bisa di mulai sejak awal Mei hingga Juni 2026.
Perubahan ini berpotensi meningkatkan risiko munculnya titik panas atau hotspot, yang menjadi indikator awal kebakaran hutan dan lahan di wilayah Jambi.
“Potensi kemunculan hotspot cukup tinggi pada pertengahan tahun, sehingga langkah antisipasi perlu di siapkan sejak sekarang,” ujar Ibnu.
Menghadapi situasi tersebut, BMKG mendorong pemerintah daerah dan berbagai pihak untuk mulai melakukan mitigasi. Upaya yang dapat di lakukan antara lain memastikan ketersediaan air di wilayah rawan serta merancang operasi modifikasi cuaca jika di perlukan.
Langkah pencegahan ini di nilai penting mengingat pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di mana kebakaran hutan dan lahan sering meningkat saat musim kemarau tiba. Selain berdampak pada lingkungan, peristiwa tersebut juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Dengan adanya peringatan dini ini, di harapkan kesiapsiagaan dapat di tingkatkan lebih awal, sehingga risiko yang lebih besar bisa di minimalkan.(Tim)









