KLIKINAJA.COM – Wacana perubahan nama Kota Sungai Penuh menjadi Kota Kerinci tengah ramai di perbincangkan di media sosial. Sejumlah warga hingga tokoh masyarakat ikut menyuarakan pendapat mereka, memunculkan beragam respons dari publik.
Isu ini mencuat setelah adanya dorongan dari sebagian pihak yang menginginkan identitas daerah lebih merepresentasikan nama besar Kerinci. Namun, tidak semua masyarakat sepakat dengan gagasan tersebut.
Seorang pengguna Facebook, Aswardi Datuk, menilai hubungan antara Sungai Penuh dan Kerinci tidak bisa di pisahkan, baik dari sisi budaya, ekonomi, hingga pendidikan. Ia mengingatkan bahwa penetapan nama Kota Sungai Penuh merupakan hasil kesepakatan bersama saat proses pemekaran wilayah.
Menurutnya, keputusan tersebut lahir melalui musyawarah berbagai elemen masyarakat. Nama Sungai Penuh juga di nilai memiliki nilai historis dan filosofi tersendiri yang tidak bisa di abaikan begitu saja.
Ia menyayangkan jika perubahan nama hanya di dorong oleh sebagian kelompok tanpa mempertimbangkan kesepakatan yang telah di bangun sebelumnya. Baginya, mengganti nama daerah bukan perkara sederhana seperti mengganti nama usaha atau toko.
Perdebatan Dinilai Tak Perlu Berlarut
Pendapat berbeda disampaikan oleh warganet lain, Mbah Mbut Satrya. Ia menilai polemik soal nama daerah sebaiknya tidak terus di perpanjang.
Fokus utama, menurutnya, adalah bagaimana masyarakat dan pemerintah dapat bekerja sama membangun Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci agar lebih maju dan sejahtera. Ia mendorong kolaborasi lintas elemen ketimbang menghabiskan energi untuk perdebatan.
Dalam pandangannya, pemekaran wilayah yang telah terjadi seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pembangunan, bukan justru memunculkan perdebatan baru yang berpotensi memecah perhatian publik.
Ada yang Dukung Nama Kerinci
Di sisi lain, ada juga warga yang mendukung perubahan nama menjadi Kota Kerinci. Salah satunya di sampaikan oleh Fian Zumar.
Ia berpendapat bahwa nama Kerinci lebih dikenal luas oleh masyarakat luar daerah, seperti di Padang dan Jambi. Menurutnya, penggunaan nama tersebut dapat memperkuat identitas wilayah di mata publik yang lebih luas.
Ia menggambarkan bahwa selama ini, banyak orang luar masih mengaitkan Sungai Penuh sebagai bagian dari Kerinci, sehingga perubahan nama di anggap dapat mengurangi kebingungan geografis.
Perlu Kajian dan Keterlibatan Publik
Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang, wacana perubahan nama daerah ini di nilai perlu di bahas secara terbuka dan melibatkan berbagai pihak. Akademisi, tokoh adat, pemerintah daerah, hingga masyarakat umum perlu duduk bersama untuk mengkaji dampaknya secara menyeluruh.
Langkah tersebut penting agar keputusan yang diambil benar-benar mencerminkan aspirasi bersama serta tidak menimbulkan polemik berkepanjangan di tengah masyarakat.
Perubahan nama daerah juga bukan sekadar urusan administratif. Ada aspek identitas, sejarah, hingga kepentingan pembangunan jangka panjang yang harus di pertimbangkan secara matang.
Jika di kaji lebih luas, perubahan nama bisa berdampak pada branding daerah, promosi pariwisata, hingga daya saing ekonomi. Nama “Kerinci” sendiri sudah di kenal melalui potensi wisata alam seperti Gunung Kerinci dan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, yang kerap menjadi daya tarik utama wilayah tersebut.
Di sisi lain, mempertahankan nama Sungai Penuh juga berarti menjaga jejak sejarah dan kesepakatan awal saat pembentukan kota. Di titik ini, keseimbangan antara identitas lama dan visi masa depan menjadi hal yang perlu di rumuskan bersama.(Tim)









