KLIKINAJA.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Jumat. Mata uang Garuda tercatat turun 75 poin ke posisi Rp16.979 per dolar AS, di bandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.904 per dolar AS.
Pergerakan ini sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Pengamat mata uang, Ibrahim Assuabi, melihat sentimen pasar saat ini sangat sensitif terhadap langkah militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Menurutnya, pernyataan Donald Trump yang menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Iran belum cukup menenangkan pasar. Di sisi lain, AS justru di kabarkan mengirim pasukan tambahan dan membuka peluang operasi militer yang lebih luas, termasuk rencana penguasaan pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.
“Langkah ini memicu kekhawatiran pasar global, terutama terkait stabilitas pasokan energi,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Ia menyebut konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah mengganggu keseimbangan suplai energi dunia. Produksi minyak global di sebut berkurang hingga 11 juta barel per hari, angka yang cukup signifikan untuk memicu gejolak harga.
Situasi ini bahkan mendapat perhatian dari International Energy Agency yang menilai krisis energi saat ini berpotensi melampaui dampak dua krisis minyak besar pada era 1970-an, bahkan jika di gabung dengan konflik energi Rusia dan Ukraina.
Ekspektasi Suku Bunga dan Inflasi Berubah
Kondisi pasar semakin kompleks karena pelaku keuangan mulai mengubah proyeksi mereka terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi akibat harga energi yang meningkat membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga mulai di koreksi.
“Di awal tahun, pasar memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Namun sejak konflik memanas dan setelah keputusan terbaru pada 18 Maret, ekspektasi tersebut mulai dikurangi,” jelas Ibrahim.
Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang di rilis oleh Bank Indonesia. Nilainya turun ke Rp16.957 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.903 per dolar AS.
Tekanan eksternal seperti konflik geopolitik dan arah kebijakan global memang kerap menjadi faktor dominan dalam pergerakan rupiah. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mencari aset yang di anggap lebih aman, seperti dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang ikut tertekan.
Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi pengingat penting bagi pelaku pasar domestik untuk lebih waspada terhadap volatilitas jangka pendek. Stabilitas rupiah ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik global serta langkah kebijakan yang di ambil bank sentral, baik di dalam negeri maupun di Amerika Serikat.(Tim)









