KLIKINAJA.COM – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di perkirakan masih bergerak naik-turun dalam beberapa hari ke depan. Dalam proyeksi terbaru, nilai logam mulia ini di prediksi berada di rentang Rp 2.750.000 hingga Rp 2.920.000 per gram.
Pengamat komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut harga emas Antam pada akhir pekan lalu di tutup di posisi Rp 2.837.000 per gram. Angka ini menjadi titik acuan untuk melihat arah pergerakan berikutnya.
Jika tekanan jual meningkat, harga berpotensi turun menguji batas bawah di Rp 2.815.000. Bahkan dalam kondisi pasar yang lebih tertekan, nilainya bisa menyentuh Rp 2.750.000. Sebaliknya, saat permintaan menguat, harga di perkirakan mampu melewati Rp 2.855.000 dan bergerak menuju Rp 2.920.000 dalam waktu dekat.
Target Rp 3 Juta Masih Butuh Waktu
Kendati tren jangka menengah cenderung positif, peluang emas Antam menembus Rp 3.000.000 per gram belum terlihat dalam pekan ini. Ibrahim memperkirakan level psikologis tersebut baru berpotensi tercapai pada awal April, tepatnya sekitar tanggal 6 hingga 7.
Pergerakan menuju angka tersebut masih membutuhkan dorongan tambahan dari sentimen global. Tanpa katalis kuat, harga kemungkinan tetap bergerak dalam rentang yang ada saat ini.
Geopolitik dan Energi Dorong Harga Emas
Faktor eksternal menjadi pendorong utama fluktuasi harga emas. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama di jalur strategis Selat Hormuz, memberi tekanan pada distribusi energi dunia. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global.
Di saat yang sama, konflik antara Rusia dan Ukraina juga belum mereda. Serangan terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut memperbesar risiko gangguan produksi minyak dan gas. Dampaknya terasa langsung pada pasar komoditas, termasuk emas yang sering di buru saat ketidakpastian meningkat.
Ibrahim menggambarkan bahwa gangguan produksi energi global dapat mencapai jutaan barel per hari. Kondisi ini membuat investor cenderung beralih ke aset aman seperti emas.
Di luar faktor konflik, dinamika politik di Amerika Serikat turut memengaruhi sentimen pasar. Perubahan tingkat kepercayaan publik terhadap tokoh politik seperti Donald Trump ikut memberi warna pada pergerakan ekonomi global.
Di sisi lain, bank sentral di berbagai negara masih aktif menambah cadangan emas. Langkah ini di lakukan untuk menjaga stabilitas nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi. Aksi pembelian tersebut menjadi salah satu penopang utama harga emas dalam jangka panjang.
Dalam kondisi seperti sekarang, investor di sarankan tidak hanya terpaku pada tren harian. Memahami level support dan resistance bisa membantu menentukan waktu beli atau jual yang lebih tepat. Pergerakan emas yang sensitif terhadap isu global membuat strategi yang matang menjadi kunci dalam mengambil keputusan.(Tim)






