KLIKINAJA.COM – Gubernur Jambi, Al Haris, bersiap menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan telepon genggam bagi siswa di sekolah. Kebijakan ini akan di tuangkan dalam surat edaran resmi yang saat ini tengah disiapkan oleh Pemerintah Provinsi Jambi.
Langkah tersebut di ambil menyusul kekhawatiran yang semakin nyata terhadap dampak penggunaan gadget di kalangan pelajar. Aktivitas belajar di nilai mulai terganggu karena akses tanpa batas terhadap media sosial dan konten digital yang tidak selalu relevan dengan pendidikan.
Pemerintah daerah memastikan aturan ini bukan sekadar imbauan, melainkan akan di terapkan secara terukur dan di awasi bersama. Kebijakan ini juga merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak yang mengatur perlindungan anak di ruang digital.
Al Haris menegaskan, penerapan pembatasan ini perlu segera di realisasikan karena dampaknya sudah terasa di lingkungan sekolah.
“Ini harus segera kita terapkan dan awasi bersama. Dampaknya sudah sangat terasa di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Libatkan Sekolah dan Orang Tua
Pengawasan terhadap kebijakan ini tidak hanya di bebankan kepada pihak sekolah. Pemerintah mendorong keterlibatan komite sekolah serta orang tua agar pengendalian penggunaan HP bisa berjalan konsisten, baik saat siswa berada di sekolah maupun di rumah.
Instruksi juga telah diberikan kepada Biro Hukum Setda Provinsi Jambi untuk menyusun aturan turunan sebagai pedoman teknis di lapangan. Regulasi ini nantinya akan menjadi acuan bagi sekolah dalam menerapkan pembatasan secara seragam.
Kebijakan tersebut diharapkan mampu mengembalikan fokus siswa pada kegiatan belajar di kelas. Paparan konten digital yang kurang sesuai selama jam sekolah juga di harapkan dapat di tekan secara signifikan.
Di sejumlah daerah lain, pembatasan penggunaan gadget di sekolah sudah lebih dulu di terapkan dengan berbagai model, mulai dari pelarangan total hingga sistem penitipan HP selama jam pelajaran. Hasilnya cukup beragam, namun sebagian besar menunjukkan peningkatan interaksi langsung antar siswa serta perhatian yang lebih baik terhadap materi pelajaran.
Di sisi lain, tantangan tetap ada. Perkembangan teknologi yang cepat membuat anak-anak semakin akrab dengan perangkat digital sejak usia dini. Tanpa pendekatan yang seimbang, kebijakan pembatasan bisa menimbulkan resistensi jika tidak di sertai edukasi yang tepat.
Karena itu, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah menjadi kunci utama. Tidak hanya membatasi, tetapi juga mengarahkan penggunaan teknologi agar tetap memberi manfaat bagi proses belajar.(Tim)






