KLIKINAJA.COM – Prediksi musim kemarau yang datang lebih cepat dari biasanya mulai memicu kekhawatiran di Provinsi Jambi. Ancaman yang muncul bukan hanya kekeringan, tetapi juga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Direktur KKI Warsi, Adi Junedi, mengungkapkan tanda-tanda awal sudah mulai terlihat. Ia menyebut, sejumlah sumber air di wilayah hulu mengalami penurunan debit, termasuk aliran Sungai Batang Kerinci yang mulai menunjukkan indikasi mengering.
“Di hulu mulai kering, sementara di hilir, terutama di kawasan gambut, potensi kebakaran semakin meningkat. Ini menjadi kombinasi yang berbahaya,” kata Adi beberapa waktu yang lalu.
Sinyal Krisis Lingkungan Mulai Terlihat
Adi menilai kondisi ini tidak bisa di lihat sebagai siklus musiman semata. Ia mengaitkannya dengan melemahnya perlindungan terhadap kawasan hutan dan daerah aliran sungai (DAS) yang selama ini berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem.
Menurutnya, krisis air dan karhutla merupakan dua sisi dari persoalan yang sama, yakni menurunnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan hutan yang terus terjadi.
“Ini dua tanda dari satu masalah, yakni melemahnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan hutan,” katanya.
Data pemantauan juga menunjukkan kemunculan titik panas sejak awal tahun. Sepanjang Januari hingga awal Maret 2026, indikasi hotspot terdeteksi di berbagai kawasan, mulai dari hutan produksi, hutan lindung, taman nasional hingga area penggunaan lain (APL).
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa jika kemarau berlangsung lebih panjang, potensi kebakaran besar seperti yang pernah terjadi sebelumnya bisa kembali terulang.
“Kalau kemarau ini semakin panjang, maka potensi kebakaran hutan akan semakin meluas. Ini yang harus kita waspadai sejak dini,” tegasnya.
Dampak Luas hingga Ancaman Krisis Iklim
Karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Dampaknya merambah ke berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan akibat paparan asap, kerugian ekonomi, hingga meningkatnya emisi karbon yang memperparah perubahan iklim.
Adi mengingatkan bahwa pendekatan penanganan tidak bisa hanya berfokus pada pemadaman api saat kebakaran terjadi. Upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama, terutama dengan menjaga kawasan hutan yang masih tersisa.
“Penanganan kebakaran tidak bisa hanya fokus pada pemadaman api. Ini persoalan yang lebih besar karena berdampak pada kesehatan, sosial, ekonomi, dan juga mempercepat krisis iklim,” jelasnya.
Dalam konteks yang lebih luas, hutan memiliki peran vital sebagai penyangga sistem air. Ketika tutupan hutan berkurang, kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air ikut menurun, sehingga memperbesar risiko kekeringan di musim kemarau.
Adi pun mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun pelaku usaha, untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan sebagai langkah pencegahan jangka panjang.
“Menjaga hutan berarti menjaga air. Menjaga air berarti menjaga kehidupan. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal masa depan,” pungkasnya.(Tim)






