KLIKINAJA, JAMBI – Upaya memperluas akses pendidikan bagi siswa dari keluarga tidak mampu kembali menjadi fokus Pemerintah Provinsi Jambi. Tahun ajaran 2025 membuka ruang baru bagi 503 pelajar di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) untuk mendapatkan bantuan lewat program Dumisake Pendidikan. Bantuan tersebut mencakup beasiswa, perlengkapan sekolah, hingga dukungan biaya serupa bagi pelajar yang menempuh pendidikan di lembaga swasta.
Dari total penerima, komposisi siswa cukup merata. Sebanyak 210 siswa berasal dari tingkat SMA, 168 dari SMK, dan 98 pelajar dari Sekolah Luar Biasa (SLB). Selain itu, terdapat 27 pelajar swasta yang juga memperoleh bantuan biaya SPP. Pemerintah menilai bahwa pemberian ini bukan sekadar distribusi dana pendidikan, melainkan langkah strategis untuk menekan angka putus sekolah terutama di wilayah yang masih berhadapan dengan persoalan ekonomi keluarga.
Wakil Gubernur Jambi, Abdullah Sani, yang hadir sekaligus menyerahkan bantuan secara langsung, menegaskan bahwa isu pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kondisi ekonomi masyarakat. Menurutnya, banyak siswa memiliki potensi besar namun terkendala biaya operasional sekolah seperti seragam, alat tulis, hingga pembayaran rutin bulanan. Ia menekankan bahwa Dumisake disusun sebagai solusi nyata untuk menutup celah tersebut.
“Tidak boleh ada anak yang berhenti sekolah hanya karena uang. Pemerataan pendidikan harus berjalan dari kota hingga desa,” ujar Sani dalam kesempatan tersebut. Pernyataan itu menggambarkan arah kebijakan pendidikan Jambi yang mendorong kesetaraan akses bagi seluruh kalangan tanpa memandang latar belakang keluarga.
Program Dumisake juga membawa pesan bahwa pemerintah ingin hadir lebih dekat dengan siswa sebagai wujud intervensi sosial. Bantuan yang diberikan bukan hanya berupa beasiswa, tetapi juga perlengkapan belajar seperti seragam dan alat tulis. Hal itu dirancang agar siswa tidak lagi terbebani kebutuhan dasar sekolah dan dapat lebih fokus mengejar prestasi akademik.
Dalam penyampaiannya, Wakil Gubernur turut berharap agar bantuan tersebut tidak menjadi sekadar simbol bantuan tahunan. Ia meminta para penerima untuk menggunakan fasilitas yang diberikan secara maksimal. Menurutnya, pemerintah membutuhkan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan siswa agar program pendidikan inklusif ini berbuah hasil nyata.
Di sisi lain, bantuan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat bagi pelajar dari keluarga kurang mampu. Banyak dari mereka sebelumnya harus bekerja paruh waktu atau membantu orang tua memenuhi kebutuhan rumah tangga. Melalui program ini, diharapkan waktu belajar mereka tidak lagi terbagi dan prestasi akademik bisa meningkat.
Secara jangka panjang, pemerintah menargetkan tumbuhnya generasi baru yang bukan hanya mengejar kelulusan, namun juga memiliki daya saing tinggi dan kemandirian ekonomi. Pendidikan dipandang sebagai investasi paling penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Ketika siswa memiliki akses yang sama terhadap fasilitas pendidikan, maka kesenjangan sosial di tingkat daerah dapat dipersempit secara perlahan.
Dengan hadirnya Dumisake Pendidikan, Pemprov Jambi menunjukkan arah kebijakan yang berpihak pada peningkatan kualitas pendidikan daerah. Tanjabbar mendapat porsi penting dalam distribusi bantuan tahun ini, dan pemerintah berkomitmen melanjutkan dukungan serupa di wilayah lain. Harapannya, semakin banyak pelajar yang dapat meraih pendidikan layak tanpa terkendala biaya.
Program Dumisake bukan sekadar penyaluran beasiswa, tetapi menjadi upaya memperkuat fondasi pendidikan bagi pelajar kurang mampu di Tanjabbar. Pemerintah meyakini langkah ini akan melahirkan generasi muda yang siap bersaing dan membawa kemajuan bagi daerah.(Tim)









