KLIKINAJA, KERINCI – Pelaksanaan proyek pengaspalan jalan berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui skema Instruksi Presiden (Inpres) di Kabupaten Kerinci kini berada dalam sorotan publik. Alih-alih menghadirkan infrastruktur berkualitas, pekerjaan di ruas Batu Hampar–Sungai Betung Mudik–Siulak Deras justru memicu kekhawatiran akan mutu konstruksi yang di nilai jauh dari harapan.
Proyek bernilai Rp28 miliar dengan panjang penanganan sekitar 9,9 kilometer itu berada di bawah kewenangan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Jambi. Pekerjaan fisik di laksanakan oleh PT Air Tenang, dengan target penyelesaian pada akhir tahun anggaran. Namun di lapangan, sejumlah indikasi awal kerusakan mulai tampak meski masa kontrak belum sepenuhnya berakhir.
Kejar Tenggat Akhir Tahun, Mutu Jalan di Pertanyakan
Sorotan utama tertuju pada pola kerja yang di nilai terlalu berorientasi pada kejar target. Warga setempat menilai pengerjaan berlangsung terburu-buru, tanpa memberi ruang penyesuaian terhadap kondisi cuaca dan lingkungan sekitar.
Beberapa titik pengaspalan di sebut tetap di lakukan saat hujan turun. Praktik semacam ini dikenal berisiko tinggi dalam pekerjaan jalan, karena dapat menurunkan daya lekat aspal serta memicu kerusakan dini pada lapisan permukaan.
Selain faktor cuaca, hasil pemantauan di lapangan juga mengarah pada dugaan ketidaksesuaian spesifikasi teknis. Mulai dari mutu material Asphalt Mixing Plant (AMP), Lapisan Pondasi Agregat Kelas A, hingga lapisan aus AC-WC yang di nilai belum mencerminkan standar nasional Kementerian PUPR.
Pengaspalan Saat Hujan, Warga Khawatir Jalan Cepat Rusak
Seorang warga mengaku menyaksikan langsung pengaspalan yang tetap berlangsung meski hujan mengguyur lokasi proyek. Menurutnya, tidak terlihat adanya penghentian sementara atau penyesuaian metode kerja.
Warga lain juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Ia menilai pengaspalan dalam kondisi basah akan berdampak langsung pada umur jalan. Jika kualitas dikorbankan sejak awal, kerusakan seperti retak dan lubang di yakini akan muncul lebih cepat dari seharusnya.
Secara teknis, pekerjaan pengaspalan saat hujan berpotensi menyebabkan stripping, kepadatan lapisan yang tidak maksimal, serta menurunkan daya tahan struktur jalan. Risiko ini semakin besar jika tidak di imbangi dengan pengawasan ketat di lapangan.
Pengawasan Konsultan Ikut Dipertanyakan
Di tengah berbagai temuan tersebut, perhatian publik juga mengarah pada peran konsultan pengawas proyek. Tercatat, pengawasan di lakukan oleh PT Indah Bangunan Nagara Consultant KSO bersama PT Ceriatama Nusawidya Consult dan PT Arkade Gahana Konsultan.
Ketiganya di nilai belum menunjukkan langkah tegas di lapangan, terutama saat pengaspalan tetap di lakukan di tengah hujan. Hingga kini, belum terdengar adanya penghentian pekerjaan atau peringatan keras meski praktik tersebut berpotensi menyimpang dari ketentuan teknis.
Padahal, jalan Inpres ini di rancang sebagai urat nadi mobilitas dan penggerak ekonomi masyarakat Kabupaten Kerinci. Jika mutu pekerjaan tidak di jaga sejak awal, proyek bernilai puluhan miliar rupiah itu berisiko meninggalkan persoalan jangka panjang dan membebani warga yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama.(Tim)









