KLIKINAJA, KERINCI – Jagat media sosial kembali ramai oleh sebuah video pendek yang memperlihatkan aksi nekat seorang pendaki di puncak Gunung Kerinci.
Dalam rekaman tersebut, pendaki tampak berdiri santai di bibir kawah sambil berpose ke arah kamera. Yang membuat banyak orang bergidik, batu tempat berpijak terlihat retak dan tidak stabil.
Video itu dengan cepat menyebar dari satu platform ke platform lain. Warganet ramai-ramai menyoroti potensi bahaya yang mengintai, mengingat kawasan kawah di kenal memiliki struktur batuan rapuh dan mudah runtuh, terlebih di gunung api yang masih aktif.
Menanggapi viralnya rekaman tersebut, Kepala Seksi PTN Wilayah I Kerinci, David, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa area sekitar kawah bukanlah tempat aman untuk aktivitas apa pun yang bersifat mendekat, apalagi sekadar berburu foto.
PTN Kerinci: Batu Rapuh, Satu Langkah Bisa Berakibat Fatal
Menurut David, kondisi alam di puncak gunung tidak pernah bisa di pastikan sepenuhnya. “Retakan kecil pada batu dapat menjadi awal dari runtuhan besar yang membahayakan siapa saja di sekitarnya,” kata David.
Ia menyampaikan bahwa berfoto di bibir kawah, terutama di atas batuan yang sudah menunjukkan tanda kerusakan, merupakan tindakan berisiko tinggi. Kesalahan kecil, kata dia, bisa berujung pada kecelakaan serius yang mengancam nyawa.
Imbauan tegas ini tidak hanya di tujukan kepada pendaki mandiri. Para pemandu gunung dan operator tur juga diminta berperan aktif mengingatkan tamu yang mereka dampingi agar tidak tergoda mengambil risiko demi konten atau dokumentasi pribadi.
Radius Aman dan Langkah Pencegahan Pengelola
Lebih jauh, pihak PTN Wilayah I Kerinci tetap merekomendasikan agar seluruh pengunjung menjaga jarak aman dari kawah hingga radius tiga kilometer. Ketentuan ini di berlakukan sebagai langkah pencegahan dari potensi runtuhan batu, paparan gas berbahaya, hingga amblesan mendadak yang bisa terjadi tanpa tanda jelas.
David mengungkapkan, papan peringatan sebenarnya pernah di pasang di area puncak. Namun, cuaca ekstrem dan kondisi alam membuat papan tersebut tidak bertahan lama karena tidak memungkinkan di pasang secara permanen.
Sebagai solusi, pengelola kini menyiapkan pemasangan imbauan keselamatan di titik-titik awal pendakian. Pos registrasi, pintu rimba, hingga basecamp akan menjadi lokasi utama agar pesan kewaspadaan sudah di pahami sejak pendaki memulai perjalanan.
Sementara itu, video yang memicu perbincangan luas ini di ketahui pertama kali beredar melalui Facebook sebelum menyebar cepat ke berbagai media sosial lain. Mayoritas komentar publik menilai aksi tersebut terlalu berbahaya dan tidak sepadan dengan risiko yang dihadapi.
Gelombang reaksi ini menjadi pengingat bersama bahwa keindahan alam tidak selalu sejalan dengan keamanan. Panorama megah Gunung Kerinci menyimpan potensi bahaya nyata, yang hanya bisa di hadapi dengan kepatuhan, kesadaran, dan rasa hormat terhadap alam bukan keberanian semu demi sebuah foto.(Dea)









