KLIKINAJA – Rekaman video yang menampilkan tumpukan sampah di Shelter 3 Gunung Kerinci kembali memancing kegaduhan di ruang digital.
Sisa makanan, botol plastik, hingga kemasan sekali pakai tampak tercecer di area yang seharusnya menjadi titik istirahat aman bagi pendaki. Pemandangan itu di anggap mencoreng citra gunung tertinggi di Sumatra yang berada dalam kawasan konservasi.
Respons keras datang dari pemerhati lingkungan Kerinci–Sungai Penuh, Yose Chua. Sebagai Manajer Biodiversity dan Wildlife di Perkumpulan Wahana Mitra Mandiri, Yose menilai persoalan sampah di gunung bukan cerita baru. Hampir setiap jalur pendakian di Indonesia pernah mengalami masalah serupa dengan pola yang berulang.
Ia menegaskan, sorotan tidak seharusnya selalu di arahkan kepada pengelola. Menurut Yose, sistem pengelolaan pendakian Gunung Kerinci sudah berada di jalur yang benar.
Aturan pendakian, larangan membawa barang tertentu, hingga ancaman sanksi dan denda telah di berlakukan. Namun semua itu kerap tumbang ketika berhadapan dengan rendahnya kesadaran sebagian pendaki.
Yose menyebut, ironi terbesar justru datang dari mereka yang mengaku pecinta alam. Status itu, kata dia, sering kali berhenti sebatas label. Banyak pendaki masih abai terhadap prinsip dasar membawa turun kembali sampah yang mereka hasilkan sendiri. Kondisi ini semakin di perparah oleh maraknya pendaki musiman yang datang hanya karena tren.
Fenomena pendakian berbasis popularitas dan media sosial di nilai ikut menyumbang masalah. Yose melihat, sebagian pengunjung hanya fokus mencapai puncak dan menghasilkan konten visual, tanpa membangun tanggung jawab terhadap lingkungan yang mereka datangi. Dalam situasi seperti ini, pengawasan ketat dari pengelola menjadi kebutuhan mendesak agar efek jera benar-benar terasa.
Video Viral di Medsos Timbul Perdebatan
Tak berselang lama setelah video beredar, kolom komentar media sosial dipenuhi perdebatan. Banyak warganet mengamini pandangan Yose Chua, bahwa akar masalah terletak pada perilaku manusia. Namun, ada pula yang menilai sistem kontrol di lapangan masih memiliki celah.
Faizah Azizah, salah satu pengguna media sosial, mendorong agar sanksi benar-benar ditegakkan tanpa kompromi. Ia menilai kelonggaran hanya akan melanggengkan kebiasaan buruk dan merusak nama Gunung Kerinci di mata pendaki nasional hingga internasional. Pendapat itu sejalan dengan Regiza Nova yang menyoroti lemahnya pengawasan di pos registrasi pendakian.
Komentar lain datang dari Noviandra Abrar yang menyinggung budaya fomo dalam aktivitas pendakian. Ia menilai, banyak orang datang ke gunung tanpa bekal etika lingkungan yang memadai. Ria Fitria pun mengungkapkan kekecewaannya, mempertanyakan alasan pendaki enggan membawa turun sampah yang jelas-jelas mereka bawa dari bawah.
Rangkaian respons publik tersebut menguatkan pernyataan Yose Chua. Masalah sampah di Gunung Kerinci tidak berhenti pada aturan tertulis. Tantangan sesungguhnya berada pada kesadaran kolektif dan tanggung jawab setiap individu yang memilih hadir di alam bebas.(Tim)









