KLIKINAJA, KERINCI – Aktivitas vulkanik Gunung Kerinci kembali mengalami peningkatan yang patut di waspadai. Gunung api tertinggi di Sumatra ini berada di wilayah Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, serta Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Lonjakan aktivitas tercatat mulai Sabtu, 4 Januari 2026, sejak pukul 11.33 WIB berdasarkan data pemantauan kegempaan.
Dalam rentang waktu hingga pukul 15.06 WIB, petugas merekam 101 kejadian Gempa Vulkanik Dangkal dan 14 Gempa Vulkanik Dalam. Aktivitas kegempaan lainnya juga terdeteksi, mulai dari 27 Gempa Hembusan, 26 Gempa Frekuensi Rendah, 21 Gempa Hybrid, satu Gempa Tektonik Jauh, 21 Gempa Tektonik Lokal, hingga satu Gempa Terasa dengan skala intensitas II MMI. Data ini menunjukkan dinamika internal gunung api yang masih berkembang.
Lonjakan Kegempaan dan Sinyal Pergerakan Fluida
Pengamatan visual ke arah kawah puncak hingga pukul 15.19 WIB memperlihatkan kondisi kawah relatif jelas. Belum terlihat adanya hembusan gas yang melampaui dinding kawah. Namun, catatan instrumen seismik memberi gambaran berbeda tentang aktivitas di dalam perut gunung.
Grafik RSAM yang merekam energi gempa menunjukkan pola fluktuatif dengan lonjakan tajam di akhir periode pengamatan. Kenaikan mendadak ini berkaitan dengan gempa terasa yang terjadi pada hari yang sama. Analisis selisih waktu gelombang gempa (S–P) untuk Gempa Vulkanik Dalam berada pada kisaran 1 hingga 2,3 detik, lebih pendek di bandingkan pola pada akhir Desember 2025. Kondisi tersebut mengarah pada indikasi pergerakan fluida dominan gas dari kedalaman menuju permukaan.
Pemantauan akan terus di perketat, terutama untuk mengantisipasi peningkatan gempa Vulkanik Dangkal dan Dalam yang lebih masif, kemunculan tremor dengan amplitudo membesar, atau perubahan visual di sekitar kawah.
Pendakian Ditutup, Warga Diminta Patuhi Rekomendasi
Sejalan dengan perkembangan tersebut, Kepala Seksi PTN Wilayah I Kerinci, David, menyampaikan imbauan tegas kepada masyarakat dan para pendaki. Ia meminta seluruh aktivitas pendakian ke Gunung Kerinci di hentikan sementara waktu.
David menyatakan bahwa pendakian sebaiknya tidak di lakukan hingga ada pemberitahuan resmi berikutnya dari pihak berwenang. “Langkah ini di ambil sebagai upaya pencegahan risiko, mengingat potensi bahaya yang dapat muncul sewaktu-waktu,” katanya.
Saat ini, status aktivitas Gunung Kerinci berada pada Level II (Waspada). Masyarakat dan pengunjung juga di minta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah puncak. Ancaman yang perlu di antisipasi meliputi paparan gas vulkanik berkonsentrasi tinggi serta kemungkinan lontaran material pijar jika terjadi erupsi.
Pemantauan intensif di lakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di bawah Badan Geologi, dengan koordinasi bersama BNPB dan pemerintah daerah.
Informasi resmi dapat diakses melalui aplikasi Magma Indonesia, situs PVMBG dan Badan Geologi, serta Pos Pengamatan Gunung Kerinci di Desa Lindung Jaya, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci.(Tim)









