KLIKINAJA, JAMBI – Jagat pendidikan di Provinsi Jambi kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang menampilkan aksi pengeroyokan terhadap seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur beredar luas di media sosial. Rekaman berdurasi sekitar 3 menit 28 detik itu viral di berbagai platform dan memicu keprihatinan banyak pihak.
Dalam video tersebut, terlihat adu mulut antara seorang guru dan sejumlah siswa sebelum insiden pengeroyokan terjadi. Situasi sempat di redam oleh beberapa guru lain dan seorang pria berpakaian bebas.
Guru yang terlibat cekcok kemudian di bawa ke salah satu ruangan untuk menghindari kericuhan. Namun, kondisi kembali memanas ketika sejumlah siswa mengejar hingga berujung pada aksi kekerasan.
Beruntung, pengeroyokan tidak berlangsung lama. Guru tersebut berhasil di evakuasi dan di amankan di sebuah ruangan yang pintunya segera di tutup dan di kunci untuk mencegah siswa lain masuk.
Guru yang menjadi korban, Agus Saputra, menjelaskan bahwa peristiwa itu bermula saat jam pelajaran berlangsung. Ia mengaku di tegur oleh seorang siswa dengan kata-kata yang tidak sopan dan di nilai tidak pantas, padahal proses belajar mengajar sedang berlangsung.
“Saya di tegur dengan teriakan dan kata-kata yang tidak pantas, tanpa rasa hormat, sementara di kelas ada guru yang sedang mengajar,” ujar Agus, Rabu (14/1/2026) kemarin.
Merasa tidak terima, Agus kemudian masuk ke kelas untuk menanyakan siapa siswa yang melontarkan ucapan tersebut. Ia mengakui sempat terpancing emosi setelah seorang siswa menantangnya secara langsung.
“Saat itu refleks saya menampar pipinya satu kali,” ungkapnya.
Menurut Agus, persoalan tersebut tidak berhenti di situ. Pada jam istirahat, siswa yang sama kembali menantangnya hingga masalah berlarut dari sekitar pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB. Upaya mediasi sempat di lakukan sebelum insiden pengeroyokan terjadi.
Dalam mediasi itu, kata Agus, para siswa menuntut dirinya meminta maaf atas sesuatu yang menurutnya tidak ia lakukan. Sebagai alternatif, ia justru menyarankan agar siswa membuat petisi jika memang tidak menginginkannya lagi mengajar di sekolah tersebut.
“Setelah mediasi di lapangan, saya di ajak komite ke ruang kantor. Justru di situlah saya di keroyok oleh siswa dari kelas 1, 2, dan 3,” tuturnya.
Agus juga mengakui sempat memegang senjata tajam jenis celurit. Namun ia menegaskan benda tersebut hanya di gunakan untuk menghalau dan membubarkan siswa yang semakin beringas.
“Itu hanya untuk menggertak agar mereka bubar, tidak ada niat melukai siapa pun,” katanya, seraya menambahkan bahwa dirinya juga sempat di lempari batu.
Terkait tudingan bahwa ucapannya menyinggung perasaan siswa, Agus membantah keras. Ia menegaskan pernyataannya murni bermaksud memberi motivasi, bukan mengejek atau merendahkan.
“Saya bicara secara umum sebagai motivasi. Saya sampaikan kalau nanti hidup susah, jangan bertingkah macam-macam. Itu bukan untuk menyinggung siapa pun,” jelasnya.
Akibat pengeroyokan tersebut, Agus mengaku mengalami sejumlah luka, di antaranya bengkak di badan, nyeri pada tangan, serta memar di bagian punggung. Ia juga menegaskan tidak pernah melakukan penganiayaan terhadap siswa.
“Saya tegaskan, saya tidak menganiaya anak itu,” ujarnya.
Sebagai korban, Agus melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Ia berharap ada kejelasan dan perlindungan atas peristiwa yang di alaminya.









