Hipotermia di Gunung: Risiko Mematikan yang Kerap Mengintai Pendaki

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 18 Januari 2026 - 09:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KLIKINAJA – Hipotermia masih menjadi salah satu ancaman paling serius dalam aktivitas pendakian gunung. Kondisi ini kerap muncul saat suhu udara turun drastis, hujan berlangsung lama, atau ketika tubuh pendaki berada dalam kondisi lelah dan kekurangan energi.

Dalam banyak kejadian di jalur pendakian, hipotermia bukan sekadar membuat pendaki berhenti melangkah. Kondisi ini sering menjadi awal dari situasi darurat yang berujung pada proses evakuasi, bahkan kehilangan nyawa.

Pengertian Hipotermia di Lingkungan Gunung

Secara medis, hipotermia terjadi ketika suhu tubuh inti turun di bawah 35 derajat Celsius. Di kawasan pegunungan, penurunan suhu tubuh bisa berlangsung cepat akibat kombinasi udara dingin, angin, dan kelembapan tinggi.

Pendaki yang tidak bergerak dalam waktu lama, mengenakan pakaian basah, atau tidak memiliki perlindungan tubuh memadai akan lebih cepat kehilangan panas. Tanpa penanganan tepat, kondisi ini dapat berkembang dari tahap ringan ke tahap berat.

Faktor Penyebab Hipotermia Saat Pendakian

Hipotermia jarang di sebabkan oleh satu faktor tunggal. Biasanya, kondisi ini muncul akibat gabungan beberapa situasi berikut:

Cuaca dingin di sertai hujan dan kabut

Baca Juga :  Isuzu Panther Tetap Menyala Usai Terendam Banjir, Video Ini Viral di Medsos

Pakaian yang basah atau tidak sesuai standar pendakian

Paparan angin dalam durasi panjang

Asupan makanan dan cairan yang minim

Kelelahan fisik berlebihan

Terlalu lama berhenti di jalur terbuka

Kondisi tersebut membuat tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya untuk menghasilkan panas alami.

Gejala Hipotermia yang Sering Tidak Disadari

Pada tahap awal, gejala hipotermia kerap di abaikan karena di anggap sekadar kedinginan. Padahal, tanda-tanda ini perlu di waspadai sejak dini:

Menggigil hebat dan sulit di kendalikan

Bicara tidak jelas atau terdengar pelo

Tubuh terasa lemah dan koordinasi menurun

Langkah tidak stabil saat berjalan

Rasa kantuk berlebihan dan kebingungan

Penurunan kesadaran pada kondisi berat

Ketika menggigil mulai berkurang sementara tubuh tetap dingin, itu justru menjadi tanda kondisi semakin serius.

Langkah Penanganan Hipotermia di Gunung

Penanganan awal yang tepat sangat menentukan keselamatan korban hipotermia. Pendaki di sekitar korban perlu bertindak cepat dan terukur. Korban harus segera di pindahkan ke lokasi yang terlindung dari angin dan hujan. Pakaian basah dilepaskan dan di ganti dengan pakaian kering, lalu tubuh di selimuti untuk mempertahankan panas.

Baca Juga :  Cuaca Ekstrem, Longsor dan Banjir Meluas di Sejumlah Daerah

Jika korban masih sadar, minuman hangat dan manis dapat membantu meningkatkan energi. Sumber panas alami seperti botol air hangat bisa di gunakan secara bertahap. Evakuasi perlu segera di lakukan bila kondisi tidak menunjukkan perbaikan.

Upaya Pencegahan yang Wajib Diperhatikan Pendaki

Pencegahan menjadi kunci utama agar hipotermia tidak terjadi selama pendakian. Pendaki di sarankan menggunakan sistem pakaian berlapis, membawa jas hujan dan pakaian cadangan, serta memastikan asupan makanan berkalori tercukupi.

Pemantauan cuaca sebelum dan selama pendakian juga tidak boleh di abaikan. Ketika kondisi tubuh menurun atau cuaca memburuk, keputusan untuk berhenti atau turun gunung justru menjadi langkah paling aman.

Keselamatan Pendaki Dimulai dari Kesadaran Risiko

Hipotermia di gunung bukan peristiwa langka dan bisa menimpa siapa saja, termasuk pendaki berpengalaman. Pemahaman tentang gejala, penyebab, dan penanganan menjadi bekal penting sebelum melangkah ke alam bebas.

Kesiapan mental, fisik, dan perlengkapan sering kali menjadi pembeda antara perjalanan aman dan situasi darurat di jalur pendakian.(Tim)

Berita Terkait

BMKG Ungkap Penyebab Jakarta Terasa Lebih Panas Saat Pancaroba
Bolehkah Kurma Dicuci Sebelum Dimakan? Ini Cara Membersihkannya dengan Benar
Fitur Keamanan Baru Meta di WhatsApp, Facebook, dan Messenger Tangkal Penipuan
7 Ciri Kepribadian yang Sering Dimiliki Orang Sukses
BPJS Kesehatan Aktif Berapa Hari Setelah Daftar? Ini Penjelasan Resminya
Google Bisa Rekam Aktivitas Pengguna 24 Jam, Begini Cara Kerjanya
Cara Pindah BPJS Mandiri ke BPJS Gratis (PBI) 2026, Ini Syarat dan Prosedurnya
6 Cara Cek KIS Aktif atau Tidak Secara Online dan Offline
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 16 Maret 2026 - 00:00 WIB

BMKG Ungkap Penyebab Jakarta Terasa Lebih Panas Saat Pancaroba

Minggu, 15 Maret 2026 - 15:00 WIB

Bolehkah Kurma Dicuci Sebelum Dimakan? Ini Cara Membersihkannya dengan Benar

Sabtu, 14 Maret 2026 - 06:00 WIB

Fitur Keamanan Baru Meta di WhatsApp, Facebook, dan Messenger Tangkal Penipuan

Selasa, 10 Maret 2026 - 23:35 WIB

7 Ciri Kepribadian yang Sering Dimiliki Orang Sukses

Senin, 9 Maret 2026 - 20:17 WIB

BPJS Kesehatan Aktif Berapa Hari Setelah Daftar? Ini Penjelasan Resminya

Berita Terbaru

Game

Kode Redeem FF Max 23 Maret 2026 dan Event THR Lebaran

Senin, 23 Mar 2026 - 18:50 WIB