KLIKINAJA – Permukaan Danau Kerinci dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan penurunan yang mencolok. Kondisi tersebut terpantau jelas dari kawasan jembatan Sanggaran Agung, tepatnya di area pintu air Barang Merangin, di mana debit air tampak jauh lebih rendah di banding kondisi normal.
Warga setempat mulai merasakan perubahan ini secara langsung. Alur air yang biasanya lebar kini menyempit, bahkan di beberapa titik hanya menyisakan jalur dangkal yang sulit di lalui perahu. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran, terutama bagi masyarakat yang aktivitas hariannya bergantung pada danau.
Yudi, warga Sanggaran Agung, mengungkapkan bahwa penyusutan air kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, kawasan yang dulu masih aman di lalui perahu kini tampak kering di sejumlah sisi. “Kemarau yang berlangsung cukup lama menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat penurunan permukaan air,” ujarnya.
Di samping faktor alam, warga juga menyoroti pengaturan pintu air PLTA di sekitar jembatan arah Tanjung Batu. “Aktivitas pembukaan pintu air diduga ikut memengaruhi aliran keluar Danau Kerinci menuju daerah hilir, sehingga mempercepat surutnya air danau,” katanya.
Dampak Lingkungan dan Ancaman Bagi Nelayan Danau Kerinci
Penyusutan air Danau Kerinci tidak berdiri sendiri. Sejumlah laporan media lingkungan mencatat bahwa kondisi ekosistem danau dalam beberapa tahun terakhir terus mendapat tekanan. Masuknya material lumpur dari sungai-sungai sekitar, sampah rumah tangga, serta minimnya upaya normalisasi mempercepat proses pendangkalan di sejumlah zona danau.
Pendangkalan membuat danau kehilangan daya tampung alaminya. Ketika cuaca panas berlangsung lama dan curah hujan menurun, permukaan air akan lebih cepat surut di banding masa lalu. Situasi ini di rasakan langsung oleh nelayan tradisional yang mulai kesulitan menjangkau area tangkapan ikan yang biasa mereka datangi.
Beberapa nelayan mengaku hasil tangkapan cenderung menurun karena ikan berpindah ke bagian danau yang lebih dalam. Jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya tidak hanya di rasakan pada sektor perikanan, tetapi juga pada perekonomian warga dan potensi wisata Danau Kerinci yang selama ini menjadi kebanggaan daerah.
Pakar lingkungan menilai perubahan iklim dan kerusakan hutan di wilayah hulu turut memperburuk keseimbangan air danau. Tutupan hutan yang berkurang menyebabkan kemampuan tanah menyimpan air melemah, sehingga pasokan air ke danau tidak stabil saat musim kemarau.









