KLIKINAJA – Langit mendung di perkirakan akan menyelimuti sebagian besar wilayah Indonesia pada Minggu, 25 Januari 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan dominasi awan tebal hingga kabut tipis di sejumlah kota besar, termasuk wilayah Jambi yang masuk dalam daftar area dengan visibilitas berkurang.
Fenomena ini menjadi penanda meningkatnya aktivitas atmosfer di awal tahun, yang kerap memicu perubahan cuaca lebih cepat di banding bulan-bulan kering. Masyarakat di imbau untuk menyesuaikan aktivitas luar ruang dan memantau perkembangan prakiraan harian dari sumber resmi.
Awan Pekat Menyebar dari Sumatera hingga Papua
Prakirawan BMKG Wahyu Anisa menjelaskan, kondisi langit tertutup awan tidak hanya terjadi di Jambi. Pola serupa di perkirakan meluas ke Banda Aceh, Medan, Pontianak, Tanjung Pinang, Padang, Semarang, Banjarmasin, Samarinda, Denpasar, Palu, Gorontalo, Manado, Ternate, Ambon, hingga Sorong.
Menurutnya, sebagian wilayah tersebut berpotensi mengalami awan tebal yang pada waktu tertentu disertai kabut, terutama pada pagi dan malam hari. Situasi ini bisa berdampak pada jarak pandang transportasi darat maupun udara.
Sementara itu, hujan dengan intensitas ringan di perkirakan turun di Pekanbaru, Bengkulu, Pangkal Pinang, Palembang, Bandar Lampung, Serang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Tanjung Selor, Mataram, Kupang, Makassar, Mamuju, Manokwari, Jayapura, serta kawasan pegunungan Jayawijaya.
Untuk Jakarta dan Nabire, BMKG memproyeksikan hujan kategori sedang. Di wilayah Merauke, potensi cuaca ekstrem berupa hujan di sertai petir patut di waspadai.
Siklon Tropis Jadi Pemicu Peningkatan Curah Hujan
Perubahan cuaca ini tidak terjadi tanpa sebab. BMKG mencatat adanya dinamika atmosfer yang cukup aktif di sekitar wilayah Indonesia, termasuk keberadaan dua sistem siklon yang memengaruhi pergerakan massa udara basah.
Siklon Tropis Luana terpantau berada di Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Timur. Sistem ini membawa angin maksimum sekitar 35 knot dan bergerak menuju perairan selatan Pulau Jawa, yang berkontribusi terhadap peningkatan awan hujan di sejumlah wilayah barat dan tengah Indonesia.
Di sisi lain, Bibit Siklon Tropis 92B terdeteksi berkembang di sekitar Teluk Carpentaria, tepatnya di selatan Papua Selatan. Dalam kurun 48 jam ke depan, sistem ini di prediksi bergeser menuju daratan Australia, namun tetap memberikan efek tidak langsung berupa suplai uap air ke kawasan timur Indonesia.
Secara klimatologis, periode Januari memang menjadi puncak musim hujan di banyak daerah. Interaksi antara monsun Asia dan gangguan tropis seperti siklon kerap memicu hujan lebih intens, bahkan berpotensi menyebabkan genangan di wilayah rawan banjir.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya di daerah yang kerap mengalami banjir, longsor, serta gangguan transportasi akibat cuaca buruk.(Tim)









