KLIKINAJA – Pengukuhan pengurus Aliansi Jurnalis Batanghari (AJB) menjadi panggung refleksi tentang posisi media di tengah derasnya arus informasi digital. Dalam forum tersebut, Bupati Batang Hari, Muhammad Fadhil Arief, menyoroti satu hal krusial: tingkat kepercayaan publik terhadap media massa.
Di hadapan para jurnalis, Fadhil menyampaikan bahwa hingga saat ini media arus utama masih menempati posisi penting di mata masyarakat. Ia menilai, kepercayaan publik terhadap media massa tetap tinggi, bahkan melampaui kepercayaan terhadap media sosial.
Menurutnya, perbedaan tersebut terletak pada fondasi kerja. Media massa memiliki badan hukum, struktur redaksi, serta aturan etik yang mengikat. Setiap berita diproses melalui tahapan verifikasi sebelum di publikasikan.
“Media sosial sering kali membuat gaduh karena informasinya simpang siur. Orang bisa memposting apa saja tanpa verifikasi. Sementara media memiliki aturan, ada proses cek dan ricek, dan bisa di pertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kepercayaan publik bukan sesuatu yang datang begitu saja. Reputasi media di bangun melalui konsistensi menghadirkan informasi yang akurat dan berimbang. Ketika masyarakat mencari kepastian atas isu-isu penting, media profesional masih menjadi rujukan utama.
Fenomena ini juga terlihat secara nasional. Berbagai survei menunjukkan bahwa untuk isu kebijakan pemerintah, hukum, hingga ekonomi, masyarakat cenderung mempercayai media arus utama di bandingkan unggahan di platform sosial yang belum tentu terverifikasi.
Media Kuat, Demokrasi Terjaga
Fadhil kemudian mengaitkan kekuatan media dengan kualitas demokrasi. Ia menilai pers yang independen dan kritis berperan sebagai pengawas jalannya kekuasaan. Tanpa media yang kuat, ruang kontrol publik bisa melemah.
“Kalau media kuat, demokrasi juga kuat. Tapi kalau media lemah dan kehilangan kepercayaan publik, demokrasi bisa ikut runtuh,” tegasnya.
Di era ketika informasi bergerak dalam hitungan detik, tantangan terbesar bukan hanya kecepatan, melainkan akurasi. Media sosial memberi ruang luas bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat, tetapi tidak semua konten berbasis data dan fakta. Di sinilah peran pers profesional menjadi pembeda.
Karena itu, Fadhil mendorong wartawan untuk terus menjaga integritas dan memperkuat solidaritas melalui organisasi profesi seperti AJB. Organisasi, menurutnya, menjadi wadah peningkatan kapasitas sekaligus benteng etika agar insan pers tetap berdiri di jalur profesionalisme.
Ia berharap jurnalis di Batang Hari mampu mempertahankan kepercayaan publik yang telah terbangun, sekaligus menjadi bagian penting dalam merawat demokrasi di daerah.(Tim)









