KLIKINAJA – Bulan Ramadhan mengubah jam makan dan minum, tetapi tidak mengubah kebutuhan dasar tubuh. Orang dewasa tetap memerlukan sekitar 2 hingga 2,5 liter cairan per hari, sama seperti hari biasa. Hal itu di sampaikan dr. Yulia Wardhani, spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dalam unggahan Instagram Kementerian Kesehatan.
Menurutnya, tubuh tetap kehilangan cairan lewat keringat, urine, dan pernapasan. Puasa hanya membatasi waktu minum, bukan menurunkan kebutuhan cairan. Itulah sebabnya strategi pengaturan minum menjadi kunci agar tubuh tetap terhidrasi sepanjang hari.
Banyak orang mencoba “menabung” cairan dengan minum banyak sekaligus saat sahur. Harapannya sederhana: supaya tidak cepat haus. Namun pendekatan ini justru tidak efektif.
Minum Sekaligus Bikin Cepat Buang Air Kecil
Tubuh memiliki sistem pengaturan cairan yang bekerja presisi. Ketika cairan masuk dalam jumlah besar dalam waktu singkat, ginjal akan membaca kondisi itu sebagai kelebihan cairan.
Dr. Yulia menjelaskan, saat asupan air terlalu banyak dalam satu waktu, ginjal segera membuangnya melalui urine. Akibatnya, frekuensi buang air kecil meningkat dan cairan tidak bertahan lama di tubuh.
Sebaliknya, cairan yang di minum perlahan lebih mudah di pertahankan. Ginjal memiliki waktu untuk menyerap dan mengatur distribusi cairan secara optimal. Inilah alasan mengapa pola minum bertahap lebih di anjurkan di bandingkan minum sekaligus dalam jumlah besar.
Pola 8 Gelas dari Berbuka hingga Sahur
Agar kebutuhan dua liter tetap terpenuhi tanpa mengganggu ibadah, pembagian minum bisa di lakukan sejak waktu berbuka hingga sahur. Prinsipnya sederhana: sedikit demi sedikit, tetapi konsisten.
Sisanya di minum perlahan di sela waktu malam. Pola ini memberi kesempatan bagi tubuh untuk menyerap cairan dengan baik tanpa memicu dorongan sering ke kamar mandi.
Secara fisiologis, tubuh mampu beradaptasi dengan perubahan pola makan selama Ramadhan. Namun adaptasi itu tetap memerlukan manajemen asupan yang tepat. Dehidrasi ringan saja bisa menurunkan konsentrasi, memicu sakit kepala, hingga membuat tubuh terasa lemas saat siang hari.
Kenali Tanda Dehidrasi dan Sumber Cairan Tambahan
Warna urine menjadi indikator sederhana kondisi hidrasi. Jika warnanya kuning tua atau pekat, itu pertanda tubuh kekurangan cairan. Idealnya urine berwarna kuning muda hingga jernih.
Dr. Yulia juga mengingatkan kelompok lansia agar lebih disiplin minum. Pada usia lanjut, sensasi haus sering kali berkurang sehingga risiko dehidrasi meningkat bila menunggu rasa haus datang.
Sebagian kebutuhan cairan, sekitar 15–20 persen, dapat di peroleh dari makanan. Buah seperti semangka, melon, dan jeruk mengandung air tinggi. Sayur berkuah juga membantu memenuhi kebutuhan cairan malam hari.
Meski demikian, air putih tetap menjadi pilihan utama. Minuman berkafein sebaiknya di batasi karena dapat memicu peningkatan frekuensi buang air kecil pada sebagian orang.









