KLIKINAJA – Lonjakan kasus dugaan campak terjadi di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi. Dinas Kesehatan setempat mencatat 101 warga masuk kategori suspek. Dari belasan sampel yang di periksa di laboratorium, enam orang di pastikan terinfeksi virus campak.
Data tersebut di himpun dari laporan puskesmas dan rumah sakit yang tersebar di sejumlah kecamatan. Pemeriksaan laboratorium telah di lakukan terhadap 12 sampel, dan separuhnya menunjukkan hasil positif.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Hari, Wendrawati, menjelaskan bahwa temuan ini menjadi sinyal kewaspadaan bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia menegaskan, dari ratusan kasus terduga yang tercatat, sebagian sudah melalui uji laboratorium dan enam di antaranya terkonfirmasi campak.
“Laporan dari fasilitas kesehatan menunjukkan ada 101 kasus suspek. Dari 12 sampel yang hasilnya sudah keluar, enam dinyatakan positif,” ujar Wendrawati.
Tersebar di Delapan Kecamatan, Anak-anak Paling Rentan
Sebaran kasus dugaan campak ini di temukan di delapan kecamatan. Kelompok yang paling banyak terdampak adalah anak usia sekolah dan bayi, kelompok yang memang memiliki risiko lebih tinggi bila imunisasinya belum lengkap.
Dari enam pasien yang terkonfirmasi positif, tiga di antaranya berasal dari komunitas Suku Anak Dalam (SAD), sementara tiga lainnya merupakan warga umum. Kondisi ini membuat petugas kesehatan melakukan pemantauan lebih intensif, terutama di wilayah dengan mobilitas warga yang cukup tinggi.
Campak merupakan penyakit akibat infeksi virus yang penularannya sangat cepat. Virus menyebar melalui percikan ludah saat penderita batuk, bersin, bahkan saat berbicara dalam jarak dekat. Tanpa kekebalan tubuh yang memadai, penularan dapat terjadi dalam waktu singkat di lingkungan sekolah maupun rumah.
Gejala Awal dan Langkah Pencegahan
Gejala campak biasanya di awali demam tinggi, di sertai batuk, pilek, dan munculnya ruam merah di kulit. Dalam beberapa kasus, anak juga mengalami mata merah dan lemas. Jika tidak di tangani, komplikasi bisa muncul, terutama pada balita.
Wendrawati mengingatkan warga agar tidak menunda pemeriksaan ketika anak menunjukkan tanda-tanda tersebut. Ia mengimbau keluarga segera membawa anggota yang sakit ke puskesmas terdekat agar mendapatkan penanganan medis dan mencegah penularan lebih luas.
“Kami mengajak masyarakat segera memeriksakan diri jika muncul gejala seperti demam dan ruam. Imunisasi lengkap menjadi perlindungan paling efektif,” katanya.
Petugas kesehatan kini menggencarkan edukasi langsung ke masyarakat, melakukan penyemprotan di sinfektan di titik tertentu, serta memperkuat pelacakan kasus. Warga yang terpapar juga di anjurkan menjalani isolasi mandiri sampai di nyatakan pulih.
Secara epidemiologis, peningkatan kasus campak sering berkaitan dengan celah cakupan imunisasi. Ketika sebagian anak tidak mendapatkan vaksin lengkap, virus lebih mudah menyebar. Karena itu, momentum ini menjadi pengingat bagi orang tua untuk memastikan jadwal imunisasi anak terpenuhi sesuai anjuran pemerintah.
Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat, penyebaran di harapkan dapat di tekan sebelum berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB).(Tim)









