KLIKINAJA – Semarak Ramadhan 1447 Hijriah di Hamparan Rawang terasa berbeda tahun ini. Sekelompok pemuda kembali menggelar Balap Lari 100 Meter pada malam hari, tepat menjelang sahur. Ajang ini menjadi kali kedua di selenggarakan setelah sukses menarik perhatian warga pada Ramadhan tahun sebelumnya.
Mengusung slogan “Rawang Berlari”, kegiatan tersebut kian di kenal di kalangan generasi muda di Sungai Penuh. Pesertanya tak lagi sebatas pemuda setempat. Sejumlah anak muda dari kecamatan lain di Sungai Penuh hingga dari Kabupaten Kerinci ikut meramaikan lintasan.
Balap lari ini di gelar di kawasan pemukiman warga dengan pengawasan panitia. Tujuannya jelas: menghadirkan kegiatan positif di bulan suci sekaligus menghidupkan suasana malam Ramadhan di Hamparan Rawang.
Digelar Menjelang Sahur, Ramai dan Penuh Antusias
Perlombaan biasanya di mulai saat waktu sahur semakin dekat. Di saat sebagian warga bersiap menyantap hidangan, para pemuda justru memadati lintasan sepanjang 100 meter yang telah di siapkan panitia.
Sorakan penonton membelah malam, memberi semangat kepada para pelari yang adu cepat. Meski di gelar di malam hari, suasana tetap tertib. Panitia mengatur jalannya lomba agar tidak mengganggu ketertiban lingkungan dan memastikan peserta berlomba secara sportif.
Bagi peserta, sprint singkat itu bukan hanya soal siapa tercepat. Mereka melihatnya sebagai cara menjaga kebugaran tubuh selama berpuasa. Aktivitas fisik ringan seperti lari jarak pendek di nilai cukup aman jika dilakukan dengan persiapan dan waktu yang tepat, terutama menjelang sahur ketika energi akan segera di isi kembali.
Wadah Silaturahmi dan Hiburan Positif
Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan antar pemuda lintas wilayah. Hubungan yang sebelumnya sebatas perkenalan di media sosial, kini terjalin langsung di lapangan. Canda, tawa, dan dukungan membangun suasana akrab yang jarang di temui di hari biasa.
Seorang warga Kota Sungai penuh, Rudi (42), menilai inisiatif tersebut patut di apresiasi. Menurutnya, pilihan berolahraga jauh lebih baik di banding kegiatan yang tidak jelas arah dan manfaatnya. Ia melihat suasana Ramadhan di lingkungannya menjadi lebih hidup namun tetap terkendali.
“Daripada melakukan hal yang tidak bermanfaat, lebih baik mereka berolahraga seperti ini. Ramadhan jadi lebih semarak dan tetap positif,” ujarnya.
Pendapat serupa di sampaikan Yuliana (35), yang ikut menyaksikan perlombaan dari tepi jalan. Ia menilai ajang ini memperkuat rasa kebersamaan antar pemuda dan memberi mereka aktivitas sehat sembari menunggu waktu sahur tiba.
“Kegiatan ini bagus untuk mempererat persaudaraan. Anak-anak muda jadi punya kegiatan yang sehat sambil menunggu sahur,” katanya.
Fenomena balap lari malam di bulan Ramadhan sebenarnya bukan hal baru di sejumlah daerah. Namun, di Hamparan Rawang, kegiatan ini tumbuh secara swadaya dan konsisten. Tanpa sponsor besar, para pemuda mengandalkan gotong royong untuk menyiapkan perlengkapan sederhana hingga pengaturan teknis lomba.
Jika di kelola dengan baik, ajang seperti ini berpotensi menjadi agenda tahunan yang lebih terstruktur. Pemerintah setempat bahkan bisa melihatnya sebagai peluang pembinaan olahraga usia muda sekaligus penguatan citra kawasan sebagai lingkungan yang aktif dan kreatif selama Ramadhan.
Antusiasme yang terus meningkat menjadi sinyal bahwa “Rawang Berlari” bukan sekadar tren sesaat. Ia telah menjelma menjadi simbol kebersamaan anak muda Hamparan Rawang dalam mengisi bulan suci dengan energi yang sehat dan produktif.(Tim)









