KLIKINAJA – Sungai Batang Merao yang mengalir membelah sejumlah kecamatan di Kabupaten Kerinci selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup warga. Airnya di manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, hingga perikanan. Namun belakangan, wajah sungai kebanggaan daerah itu tercoreng persoalan klasik: sampah rumah tangga.
Di beberapa titik bantaran, tumpukan plastik dan limbah domestik masih terlihat. Sebagian warga yang tinggal di tepi sungai mengaku terpaksa membuang sampah ke aliran air karena keterbatasan fasilitas Minimnya Tempat Penampungan Sementara (TPS) serta belum meratanya armada pengangkut sampah menjadi alasan utama.
Seorang warga di bantaran sungai menuturkan, mereka kerap kebingungan saat sampah mulai menumpuk di sekitar rumah. “Kami bukan ingin mencemari sungai. Tapi kalau tidak ada TPS dan tidak ada yang mengangkut, sampah bisa berhari-hari menumpuk di depan rumah,” ujarnya menggambarkan kondisi yang di hadapi.
Fasilitas Terbatas, Sungai Jadi Pelarian
Persoalan ini tak bisa di lihat secara hitam-putih. Di satu sisi, kesadaran menjaga lingkungan memang masih perlu di perkuat. Di sisi lain, dukungan infrastruktur dasar belum sepenuhnya tersedia.
Tanpa TPS di setiap desa dan jadwal pengangkutan rutin, warga memilih jalan paling praktis. Kebiasaan itu perlahan membentuk pola yang sulit di ubah. Dampaknya terasa nyata saat musim hujan tiba aliran air tersumbat, debit meningkat, dan risiko banjir mengintai permukiman sekitar.
Pencemaran juga mengancam ekosistem sungai. Limbah plastik dan sampah organik yang membusuk berpotensi merusak kualitas air, memengaruhi habitat ikan, serta meningkatkan risiko penyakit kulit dan gangguan pencernaan bagi masyarakat yang masih memanfaatkan air sungai.
Armada Sampah Bertambah, Tantangan Belum Selesai
Pemerintah Kabupaten Kerinci telah menyerahkan 11 unit armada pengangkut sampah untuk 11 kecamatan. Langkah ini menjadi sinyal keseriusan dalam membenahi tata kelola kebersihan.
Seorang pejabat daerah menyampaikan bahwa distribusi armada tersebut merupakan bagian dari upaya memperbaiki sistem pengelolaan sampah secara bertahap. “Kami berkomitmen meningkatkan layanan kebersihan. Armada sudah kami serahkan, dan ke depan akan diupayakan pemerataan agar seluruh kecamatan terlayani,” katanya.
Meski begitu, masih ada tujuh kecamatan yang belum mendapatkan armada serupa. Ketimpangan ini membuat persoalan sampah belum tertangani secara menyeluruh. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) diharapkan mampu menyusun langkah percepatan, termasuk mendorong penyediaan TPS di tiap desa dan memperkuat koordinasi lintas kecamatan.
Secara lebih luas, problem sampah di daerah aliran sungai bukan hanya terjadi di Kerinci. Banyak wilayah di Indonesia menghadapi tantangan serupa: pertumbuhan penduduk tidak selalu di iringi kesiapan sistem pengelolaan limbah. Tanpa perencanaan berbasis data dan edukasi berkelanjutan, sungai kerap menjadi korban.
Solusi jangka panjang menuntut kolaborasi. Pemerintah perlu memastikan sarana tersedia, sementara masyarakat didorong membangun budaya memilah dan mengelola sampah dari rumah. Edukasi di tingkat sekolah dan desa bisa menjadi pintu masuk perubahan perilaku.
Jika langkah ini berjalan beriringan, Sungai Batang Merao bukan hanya dapat di selamatkan dari krisis sampah, tetapi juga kembali menjadi sumber kehidupan yang layak dibanggakan generasi mendatang.(Tim)









