KLIKINAJA – Pemerintah Kabupaten Sarolangun kembali menguatkan fokus pada sektor pertanian di tahun 2026. Melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP), daerah ini mengajukan bantuan Alat dan Mesin Pertanian (alsintan) ke Kementerian Pertanian, sekaligus mengusulkan program Cetak Sawah Rakyat (CSR) seluas 350 hektar.
Kepala Dinas TPHP Sarolangun, Dulmuin, SP, menjelaskan bahwa pengajuan tersebut bukan tanpa alasan. Ia menilai, ketersediaan alsintan menjadi faktor penentu dalam mempercepat proses budidaya dan meningkatkan hasil panen petani.
“Usulan yang kami sampaikan mencakup alsintan untuk kebutuhan sebelum panen hingga pasca panen. Targetnya jelas, petani yang sebelumnya hanya tanam sekali bisa naik menjadi dua kali setahun. Bahkan yang sudah dua kali, kita dorong menjadi tiga kali,” ujar Dulmuin, belum lama ini.
Data TPHP mencatat, luas lahan baku sawah di Kabupaten Sarolangun mencapai 3.997 hektar. Sekitar 2.000 hektar di antaranya berupa lahan kering, sementara luas lahan sawah produktif berada di kisaran 3.000 hektar. Potensi ini di nilai masih bisa di optimalkan melalui dukungan mekanisasi pertanian.
Modernisasi alat pertanian di yakini akan memangkas biaya produksi sekaligus mempercepat masa olah lahan. Dengan waktu tanam yang lebih efisien, indeks pertanaman dapat meningkat dan risiko gagal panen akibat keterlambatan musim bisa di tekan.
Upaya tersebut juga selaras dengan visi pembangunan daerah 2025–2030 yang menempatkan pertanian sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi. Pemerintah daerah ingin memastikan sektor ini tetap menjadi tulang punggung pendapatan masyarakat pedesaan.
Lanjutkan Program Cetak Sawah Rakyat 350 Hektar
Tak hanya fokus pada peralatan, TPHP Sarolangun juga mengusulkan program Cetak Sawah Rakyat seluas 350 hektar untuk tahun 2026. Program ini merupakan bagian dari strategi nasional menuju swasembada pangan, terutama komoditas padi.
Dulmuin menuturkan, langkah tersebut melanjutkan capaian tahun sebelumnya. Pada 2025, pemerintah daerah berhasil merealisasikan cetak sawah baru seluas 433 hektar yang tersebar di 12 desa pada lima kecamatan.
“Tahun lalu kita sudah membuka 433 hektar sawah baru. Untuk 2026, kami mengusulkan 350 hektar lagi agar kapasitas produksi beras di Sarolangun terus bertambah dan mendukung program ketahanan pangan nasional,” katanya.
Jika usulan tersebut di setujui, penambahan lahan dan dukungan alsintan akan saling melengkapi. Sawah baru membutuhkan peralatan modern agar produktivitasnya optimal sejak musim tanam pertama.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan fluktuasi harga pangan, langkah ini menjadi strategi jangka panjang. Daerah dengan cadangan produksi yang stabil cenderung lebih tahan terhadap gejolak pasar.
Sarolangun pun berupaya memposisikan diri sebagai salah satu sentra pertanian yang mampu menjaga pasokan beras di tingkat regional.
Bagi petani, keberlanjutan program ini bukan sekadar soal luas lahan, melainkan kepastian usaha. Semakin tinggi frekuensi tanam dan semakin efisien proses produksi, semakin besar peluang peningkatan pendapatan rumah tangga tani.(Tim)









