KLIKINAJA – Hujan lebat yang turun nyaris tanpa jeda sejak pertengahan Januari membuat banyak wilayah di Indonesia berada dalam tekanan cuaca ekstrem. Pada Sabtu, 24 Januari 2026, rangkaian bencana hidrometeorologi kembali bermunculan, mulai dari tanah longsor, banjir, hingga angin kencang yang merusak permukiman warga dan infrastruktur dasar.
Kondisi ini tidak terjadi secara terpisah. Pola hujan intens berdurasi panjang memicu kejenuhan tanah, terutama di wilayah perbukitan dan pegunungan. Di saat bersamaan, angin kencang memperparah dampak dengan menumbangkan pohon dan merusak atap rumah di sejumlah daerah.
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Akhir Januari
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa potensi cuaca ekstrem di perkirakan masih bertahan hingga penghujung Januari 2026. Wilayah yang masuk dalam zona kewaspadaan meliputi Sumatra bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, serta Nusa Tenggara.
BMKG mencatat hujan lebat berpotensi disertai petir dan angin kencang. Risiko lanjutan berupa banjir bandang dan longsor dinilai masih tinggi, terutama di daerah dengan kontur tanah labil. Di sektor kelautan, tinggi gelombang di perairan utara Jawa di laporkan dapat mencapai enam meter, situasi yang membahayakan pelayaran dan aktivitas nelayan tradisional.
Bandung Barat Dilanda Longsor, Warga DievakuasI
Salah satu kejadian menonjol terjadi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Hujan deras yang turun sejak malam sebelumnya memicu longsor di kawasan permukiman. Puluhan rumah terdampak, sementara sebagian warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat masih melakukan pendataan dan pembersihan material longsor. Akses jalan sempat terganggu, meski kini berangsur normal. Hingga Sabtu siang, laporan resmi terkait jumlah korban jiwa masih menunggu hasil verifikasi lapangan.
Bali Siaga Setelah Ratusan Bencana Terjadi
Di Bali, pemerintah provinsi menetapkan status siaga bencana cuaca ekstrem. Data BPBD Bali menunjukkan dalam kurun 10 hari terakhir telah terjadi 566 kejadian bencana hidrometeorologi. Dampaknya tidak ringan: empat orang di laporkan meninggal dunia, ratusan bangunan mengalami kerusakan, dan kerugian materi di perkirakan mencapai miliaran rupiah.
Banjir, angin kencang, dan longsor tercatat merata di sejumlah kabupaten dan kota. Intensitas hujan yang tinggi membuat saluran air tidak mampu menampung debit, sementara daerah perbukitan rawan longsor kembali menunjukkan kerentanannya.
Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Daerah
Merespons situasi tersebut, pemerintah pusat menginstruksikan pemerintah daerah untuk mengaktifkan pos siaga bencana. Jalur evakuasi, logistik darurat, serta koordinasi lintas instansi di perkuat, terutama pada periode rawan 23–29 Januari 2026.
Di Jakarta, status peringatan hujan berada pada level siaga hujan lebat hingga sangat lebat. Warga di kawasan rawan genangan, banjir rob, dan tanah gerak diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan turun berjam-jam.
Apa yang Perlu Dilakukan Masyarakat
BMKG dan BPBD mengimbau masyarakat untuk rutin memantau informasi cuaca resmi, menyiapkan perlengkapan darurat, serta membatasi aktivitas di wilayah rawan banjir dan longsor ketika hujan deras berlangsung. Langkah sederhana ini di nilai krusial untuk mengurangi risiko korban dan kerugian lebih besar.
Fenomena cuaca ekstrem yang berulang menunjukkan bahwa musim hujan tidak lagi bisa di anggap sebagai rutinitas tahunan. Adaptasi, kesiapsiagaan, dan respons cepat menjadi kunci agar dampaknya tidak terus membesar.(Tim)









