KLIKINAJA – Aktivitas wisata di Danau Kaco, Desa Manjunto Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, resmi di hentikan sementara. Keputusan ini di ambil setelah meningkatnya kunjungan di nilai mulai memberi tekanan pada jalur akses dan kawasan hutan di sekitar danau yang selama ini di kenal masih alami.
Langkah penutupan bukan keputusan sepihak. Karang Taruna desa, pemerintah setempat, serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD) duduk bersama merumuskan kebijakan demi menjaga keberlanjutan destinasi wisata unggulan Kerinci tersebut.
Danau Kaco selama ini menjadi magnet wisata karena airnya yang bening menyerupai kaca, bahkan memantulkan cahaya di malam hari. Jalur trekking yang membelah hutan hujan tropis turut menjadi bagian dari pengalaman wisata alam yang di minati pelancong lokal maupun luar daerah.
Lonjakan pengunjung, di sisi lain, mulai memunculkan persoalan baru. Sampah, jalur licin, serta vegetasi liar yang menutup akses menjadi sinyal bahwa kawasan ini membutuhkan pemulihan sebelum kerusakan meluas.
Ketua Karang Taruna: Pemuda Ambil Peran Jaga Masa Depan Wisata
Ketua Karang Taruna Manjunto Lempur, Ahmad Yani Zakaria, menegaskan penutupan ini lahir dari kepedulian generasi muda terhadap kelestarian alam desa mereka.
Ia menyampaikan bahwa mulai Minggu, 25 Januari, seluruh aktivitas wisata dihentikan sementara guna memberi ruang pemulihan bagi kawasan danau.
“Benar, mulai Minggu 25 Januari Danau Kaco kita tutup sementara untuk pemulihan lingkungan,” ujar Ahmad Yani.
Selama masa tersebut, pengelola akan membenahi jalur trekking yang kerap tertutup semak dan licin saat hujan. Penataan area sekitar danau juga dilakukan agar lebih aman dan tertib saat kembali di buka.
Menurutnya, keselamatan pengunjung tetap menjadi perhatian, namun kondisi alam harus menjadi prioritas utama.
“Keselamatan pengunjung penting, tapi yang lebih utama adalah menjaga alam tetap sehat. Waktu di buka nanti, kondisinya harus lebih baik dari sebelumnya,” tegasnya.
Ia memastikan belum ada jadwal pasti pembukaan kembali.
“Kalau semua sudah siap dan alamnya pulih, baru kita umumkan kembali,” tambahnya.
Tokoh Masyarakat Soroti Sampah, Jalur Terjal, dan Habitat Satwa
Dukungan terhadap kebijakan ini datang dari tokoh masyarakat Lempur, Daswarsya, yang menyebut kawasan Danau Kaco memang sudah perlu penanganan serius.
Menurutnya, penutupan bukan sekadar pembatasan wisata, melainkan upaya nyata merawat alam yang selama ini menjadi kebanggaan desa.
“Danau Kaco ditutup sementara untuk pembersihan lokasi dari tumpukan sampah dan merehab jalur yang terjal agar lebih aman,” jelas Daswarsya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem hutan di sekitar danau.
“Kita lakukan penyegaran tumbuhan sekitar danau sekaligus menjaga ekosistem agar satwa liar tetap bebas melintas tanpa terganggu aktivitas manusia,” ujarnya.
Upaya ini di nilai penting mengingat kawasan tersebut masih menjadi jalur alami satwa hutan yang hidup di sekitar Gunung Raya.
Pemulihan Alam Jadi Investasi Jangka Panjang Pariwisata
Selama penutupan berlangsung, tidak ada aktivitas wisata yang di perbolehkan masuk ke kawasan Danau Kaco. Pengelola menyiapkan sanksi tegas bagi pelanggar sebagai bentuk komitmen menjaga kawasan konservasi.
Kebijakan ini diharapkan menjadi titik balik pengelolaan wisata alam Kerinci agar tidak hanya ramai di kunjungi, tetapi juga terawat dalam jangka panjang.
Keputusan resmi telah di tandatangani Ketua BPD, Pelaksana Tugas Kepala Desa Manjunto Lempur, serta Ketua Karang Taruna sebagai simbol kesepakatan bersama seluruh unsur desa.
Bagi masyarakat setempat, Danau Kaco bukan sekadar objek wisata, melainkan warisan alam yang harus di jaga agar tetap lestari untuk generasi mendatang.(Tim)









