Harga LPG 3 Kg di Kerinci dan Sungai Penuh Melonjak, Warga Soroti Distribusi

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 25 Maret 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi LPG 3 Kg mahal dan langka di Kerinci dan Sungai Penuh.

Ilustrasi LPG 3 Kg mahal dan langka di Kerinci dan Sungai Penuh.

KLIKINAJA.COM – Lonjakan harga gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh memicu keluhan luas dari masyarakat. Dalam beberapa pekan terakhir, harga gas subsidi itu merangkak naik hingga menyentuh Rp35 ribu per tabung di tingkat pengecer.

Kondisi ini tak hanya memberatkan, tapi juga di perparah dengan kelangkaan yang kerap terjadi di sejumlah titik. Warga mengaku harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain hanya untuk mendapatkan gas, itu pun belum tentu tersedia.

Harga Melambung, Stok Tak Menentu

Sejumlah warga menilai situasi ini janggal. Mereka menyebut pasokan gas sebenarnya tetap masuk ke wilayah tersebut, namun harga di lapangan justru melambung di luar kewajaran.

Rasyid salah seorang warga Kerinci, menuturkan bahwa ketersediaan gas tidak sepenuhnya kosong. Namun, harga yang di patok jauh di atas harga normal membuat masyarakat kesulitan.

Ia mengaku sering menemukan gas tersedia, tetapi dengan harga yang sudah tinggi. Menurutnya, kondisi ini menimbulkan dugaan adanya praktik tidak wajar di tingkat distribusi.

Baca Juga :  Danau Kaco Kerinci Ditutup, Pemuda dan Masyarakat Bergerak Selamatkan Alam

Keluhan serupa datang dari Rima salah seorang ibu rumah tangga di Sungaipenuh. Ia mengatakan kenaikan harga gas sangat terasa dalam kebutuhan harian.

Biasanya, ia membeli gas di kisaran Rp22 ribu hingga Rp25 ribu. Kini, harga melonjak hingga Rp35 ribu, bahkan terkadang sulit di temukan. Situasi ini membuat pengeluaran rumah tangga semakin berat.

Bagi pelaku usaha kecil, dampaknya jauh lebih terasa. Ahmad salah seorang pedagang, menyebut kenaikan harga gas langsung memengaruhi biaya produksi.

Ia menjelaskan bahwa saat harga gas naik, otomatis biaya operasional ikut terdongkrak. Kondisi ini membuat pelaku usaha kecil berada dalam posisi sulit karena harus menyesuaikan harga jual atau menanggung kerugian.

Warga Desak Sidak dan Penertiban

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera turun langsung ke lapangan. Mereka meminta di lakukan inspeksi mendadak guna memastikan distribusi gas berjalan sesuai aturan.

Warga juga berharap ada tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang di duga memainkan harga di tingkat agen maupun pangkalan. Mereka menilai gas LPG 3 kg merupakan kebutuhan vital yang seharusnya di lindungi dari praktik spekulasi.

Baca Juga :  Zumi Zola Comeback? Isyarat Siap di Pilgub Jambi 2029

Rudi kembali menegaskan bahwa gas subsidi semestinya benar-benar di peruntukkan bagi masyarakat kecil, bukan di manfaatkan oleh oknum untuk meraup keuntungan.

Desakan ini muncul karena masyarakat ingin harga kembali stabil dan ketersediaan gas terjamin. Tanpa langkah konkret, di khawatirkan kondisi ini akan terus berlarut dan semakin membebani warga.

Dalam konteks distribusi energi bersubsidi, pemerintah sebenarnya telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) di setiap daerah. Namun, lemahnya pengawasan di lapangan kerap membuka celah terjadinya penyimpangan, mulai dari penimbunan hingga permainan harga di rantai distribusi.

Pengamat ekonomi lokal menilai, penguatan pengawasan dan transparansi distribusi menjadi kunci untuk mengatasi persoalan ini. Tanpa kontrol yang ketat, selisih harga antara HET dan harga pasar akan terus melebar dan merugikan masyarakat kecil sebagai penerima utama subsidi.(Tim)

Berita Terkait

Sidak Hari Pertama Kerja, Wabup Merangin Soroti Disiplin ASN
Pertemuan Kepala Daerah Jambi Barat Disorot, Arah Pilgub 2029 
Sampah Lebaran di Kota Jambi Naik 10 Persen, DLH Tambah Armada
Program Penataan Kawasan Kumuh 2026, Tanjabtim Dapat Prioritas Pusat
Jalan Renah Pemetik Belum Diperbaiki, Warga Sindir Gubernur dan Bupati Monadi
BBM Subsidi Disedot PETI, Gubernur Jambi Ancam Tindak Tegas
Target 100 Ribu Wisatawan, Kerinci Siap Sambut Libur Lebaran 2026
128 Warga Binaan Rutan Sungai Penuh Terima Remisi Idul Fitri 2026, Didominasi Kasus Narkotika
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 25 Maret 2026 - 16:00 WIB

Sidak Hari Pertama Kerja, Wabup Merangin Soroti Disiplin ASN

Rabu, 25 Maret 2026 - 15:25 WIB

Pertemuan Kepala Daerah Jambi Barat Disorot, Arah Pilgub 2029 

Rabu, 25 Maret 2026 - 14:00 WIB

Harga LPG 3 Kg di Kerinci dan Sungai Penuh Melonjak, Warga Soroti Distribusi

Rabu, 25 Maret 2026 - 13:00 WIB

Sampah Lebaran di Kota Jambi Naik 10 Persen, DLH Tambah Armada

Rabu, 25 Maret 2026 - 08:00 WIB

Program Penataan Kawasan Kumuh 2026, Tanjabtim Dapat Prioritas Pusat

Berita Terbaru