KLIKINAJA, SUNGAI PENUH – Prestasi membanggakan lahir dari arena Kejuaraan Provinsi Pencak Silat yang digelar pada 15–18 Desember 2026. Dari gelanggang itu, Ahmad Maulana, atlet asal Sungai Penuh, sukses mempersembahkan medali emas untuk daerahnya.
Namun euforia kemenangan itu cepat mereda. Usai kejuaraan, tak ada sambutan, apalagi penghargaan resmi yang datang dari KONI Kota Sungai Penuh. Prestasi yang seharusnya di rayakan justru berlalu nyaris tanpa suara.
Berjuang Sendiri Demi Nama Daerah
Di balik medali yang di bawa pulang, tersimpan cerita tentang keterbatasan. Sejak berangkat hingga kembali, Ahmad dan tim harus mengumpulkan dana secara patungan. Kebutuhan makan dari pagi sampai pertandingan selesai di tanggung sendiri, sementara fasilitas yang di berikan hanya sebatas kendaraan tanpa biaya bahan bakar maupun konsumsi.
Harapan Atlet dan Tanda Tanya Anggaran
Ahmad tak menampik rasa syukurnya bisa bertanding dan menang. Meski demikian, ia mengaku perjalanan menuju podium tidaklah ringan. Menurutnya, perjuangan atlet sering kali berlangsung jauh dari sorotan, bahkan sebelum memasuki arena pertandingan.
Ia menyampaikan bahwa dukungan minimal membuat atlet harus memutar otak agar tetap bisa berlaga. Baginya, persoalan ini bukan soal tuntutan pribadi, melainkan tentang penghargaan atas usaha membawa nama daerah ke tingkat provinsi.
Ahmad berharap ke depan ada perhatian yang lebih nyata bagi atlet berprestasi. Ia menilai, kehadiran dukungan dan apresiasi akan menjadi penyemangat penting, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga generasi atlet berikutnya.
Situasi ini memicu pertanyaan di kalangan masyarakat dan pemerhati olahraga. Pengelolaan anggaran pembinaan olahraga di nilai layak di telusuri agar prestasi tidak lagi lahir dari pengorbanan sepihak. Tanpa perubahan, semangat atlet untuk terus mengharumkan nama daerah di khawatirkan perlahan memudar.
Hingga saat ini Koni Sungaipenuh belum memberikan keterangan terkait dengan permasalahan ini.(Tim)









