KLIKINAJA, SUNGAI PENUH – Di sudut barat Kota Sungai Penuh, tepatnya di Desa Koto Padang, suara palu yang beradu dengan besi masih menjadi irama harian.
Sejak lama, desa ini di kenal sebagai kampung pandai besi, tempat lahirnya parang, golok, dan alat pertanian yang di gunakan hingga ke berbagai daerah di Jambi.
Keahlian menempa besi tumbuh bersama kehidupan warga. Dari tungku sederhana dan bara api, para perajin membentuk bilah parang dengan ketelitian tinggi. Cara kerja manual tetap di pertahankan karena di yakini memberi kekuatan dan karakter khas pada setiap produk yang di hasilkan.
Aktivitas ini bukan pekerjaan sambilan. Puluhan perajin aktif menggantungkan penghasilan dari bengkel-bengkel kecil di halaman rumah mereka. Dari sanalah roda ekonomi desa berputar, menghidupi keluarga sekaligus menjaga warisan leluhur.
Ekonomi Desa, Dukungan, dan Tantangan Regenerasi
Hasil produksi pandai besi Koto Padang tidak hanya beredar di pasar lokal. Parang dan alat besi buatan desa ini telah menembus pasar luar daerah, menjadi sumber pendapatan utama bagi banyak warga. Nilai jualnya bervariasi, tergantung ukuran, tingkat kesulitan, dan detail pengerjaan.
Seiring waktu, berbagai pihak mulai melirik potensi tersebut. Program pembinaan UMKM, bantuan peralatan, hingga pelatihan efisiensi produksi perlahan masuk ke desa. Dukungan ini membantu perajin meningkatkan kualitas tanpa meninggalkan ciri tradisional yang menjadi kekuatan utama mereka.
Meski demikian, tantangan besar masih membayangi. Regenerasi menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Tidak semua anak muda tertarik melanjutkan profesi orang tua mereka, sehingga sebagian perajin mulai khawatir tradisi ini perlahan kehilangan penerus.
Di tengah keterbatasan itu, secercah harapan muncul dari berbagai inovasi. Beberapa pandai besi Koto Padang bahkan berhasil mencatat prestasi di tingkat provinsi lewat pengembangan alat dan mesin tempa sederhana. Desa ini juga mulai di arahkan menjadi kampung wisata edukasi, membuka ruang bagi pengunjung untuk menyaksikan langsung proses pembuatan parang.
Upaya tersebut memberi napas baru bagi Koto Padang. Denting besi bukan hanya tanda kerja, tetapi juga simbol ketahanan tradisi yang terus berusaha bertahan di tengah perubahan zaman.(Tim)









