KLIKINAJA – Peta pergerakan mata uang global sepanjang 2025 menghadirkan cerita yang tidak biasa. Ketika dolar Amerika Serikat (AS) justru kehilangan sebagian pamornya di pasar internasional, sejumlah mata uang lain malah terjerembap lebih dalam dan gagal bangkit dari tekanan.
Sinyal pelemahan dolar AS terlihat dari penurunan indeks dolar (DXY) yang berlanjut hampir sepanjang tahun. Ekspektasi pelaku pasar terhadap peluang penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral AS membuat aset berbasis dolar tak lagi seatraktif sebelumnya, membuka peluang bagi mata uang lain untuk menguat.
Namun realitas di lapangan berbicara lain. Alih-alih memanfaatkan celah tersebut, beberapa mata uang justru mencatat kinerja suram. Data Refinitiv yang di himpun sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Jumat, 26 Desember 2025, menunjukkan ada mata uang yang melemah tajam meski dolar tidak berada di fase terkuatnya.
Berikut daftar 10 mata uang dengan performa terburuk sepanjang 2025 terhadap dolar AS, di rangkum dari riset CNBC Indonesia.
Bolivar Venezuela (VES)
Tekanan paling berat di alami bolivar dari Venezuela. Di awal tahun, kurs masih berada di kisaran VES 51,89 per dolar AS. Menjelang akhir 2025, nilainya terperosok jauh hingga sekitar VES 294,23 per dolar.
Secara akumulatif, depresiasi bolivar menembus hampir 467%. Perekonomian yang rapuh, inflasi tinggi, jurang antara kurs resmi dan pasar paralel, serta ketidakpastian politik membuat kepercayaan terhadap mata uang ini terus terkikis.
Peso Argentina (ARS)
Mata uang dari Argentina kembali bergulat dengan tekanan. Peso bergerak dari sekitar ARS 1.030 per dolar AS di awal tahun, lalu melemah ke kisaran ARS 1.452 pada akhir periode.
Penurunan hampir 41% ini mencerminkan beban struktural ekonomi yang belum sepenuhnya terurai, meskipun berbagai kebijakan stabilisasi terus di tempuh pemerintah.
Birr Ethiopia (ETB)
Birr milik Ethiopia turut masuk dalam daftar mata uang dengan kinerja terburuk. Nilainya terkoreksi dari ETB 125,09 menjadi ETB 154,98 per dolar AS.
Tekanan hampir 24% sepanjang tahun dipicu oleh tantangan neraca eksternal serta kebutuhan pembiayaan pembangunan yang masih tinggi.
Lira Turki (TRY)
Pelemahan lira dari Turki belum menunjukkan tanda berhenti. Sepanjang 2025, kurs bergerak dari TRY 35,15 menuju TRY 42,83 per dolar AS.
Depresiasi lebih dari 21% ini berkaitan dengan tekanan inflasi dan di namika kebijakan moneter yang terus menjadi perhatian pasar.
Pound Sudan Selatan (SSP)
Mata uang dari Sudan Selatan juga berada dalam tekanan kuat. Nilai tukar melemah dari SSP 3.880 menjadi sekitar SSP 4.479 per dolar AS.
Secara tahunan, pelemahan mendekati 17% seiring kondisi ekonomi domestik yang masih belum stabil.
Dinar Libya (LYD)
Dinar milik Libya mencatat penurunan dari LYD 4,90 ke LYD 5,39 per dolar AS.
Pelemahan sekitar 10% ini tidak terlepas dari di namika politik serta ketergantungan tinggi pada sektor energi sebagai penopang ekonomi.
Dolar Suriname (SRD)
Mata uang Suriname bergerak melemah dari SRD 35,19 menjadi SRD 38,17 per dolar AS.
Tekanan sekitar 8,5% mencerminkan tantangan fiskal dan upaya menjaga stabilitas ekonomi yang masih berjalan.
Franc Rwanda (RWF)
Franc Rwanda dari Rwanda mengalami penurunan bertahap. Kurs bergerak dari RWF 1.369 menjadi RWF 1.447 per dolar AS.
Secara kumulatif, depresiasi berada di kisaran 5,7% sepanjang 2025.
Rupee Sri Lanka (LKR)
Mata uang Sri Lanka kembali terkoreksi. Dari posisi LKR 293 per dolar AS di awal tahun, rupee melemah ke sekitar LKR 309,55.
Pelemahan sekitar 5,6% terjadi di tengah proses pemulihan ekonomi pascakrisis yang masih berjalan.
Rupee Nepal (NPR)
Menutup daftar, rupee dari Nepal bergerak dari NPR 136,99 ke NPR 143,76 per dolar AS.
Depresiasi hampir 5% menempatkan Nepal sebagai mata uang dengan kinerja terburuk kesepuluh sepanjang 2025.
Kondisi ini menunjukkan bahwa arah kebijakan domestik, stabilitas politik, serta fondasi ekonomi tetap menjadi faktor penentu utama pergerakan mata uang, terlepas dari apakah dolar AS sedang kuat atau melemah di pasar global.(Tim)









