KLIKINAJA – Proyek normalisasi Sungai Batang Merao yang membentang dari Kabupaten Kerinci hingga Kota Sungai Penuh kembali menyita perhatian publik.
Warga mengakui penataan sungai ini sangat di butuhkan, terutama untuk menekan ancaman banjir yang rutin menghantui permukiman saat musim hujan tiba. Namun di balik urgensi tersebut, kualitas pengerjaan di lapangan dinilai belum sepenuhnya meyakinkan.
Pantauan di sejumlah lokasi menunjukkan hasil pekerjaan yang belum merata. Ada bagian sungai yang telah di keruk dan di lebarkan, tetapi di sisi lain masih tampak dangkal dengan lebar alur yang berubah-ubah. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya soal keseriusan dan standar pelaksanaan proyek.
Proyek Dinilai Penting, Tapi Jangan Setengah-Setengah
Bagi warga yang tinggal di bantaran sungai, normalisasi Batang Merao adalah kebutuhan mendesak. Rusli, salah seorang warga, menyebut air sungai kerap cepat meluap setiap kali hujan deras mengguyur. Ia berharap pekerjaan ini benar-benar memberi rasa aman bagi masyarakat.
Meski demikian, Rusli mengingatkan agar proyek tersebut tidak sekadar menjadi ajang mencari keuntungan. Menurutnya, warga tidak ingin hasil normalisasi hanya tampak bagus di sebagian titik, sementara bagian lain di biarkan apa adanya. Pekerjaan yang setengah-setengah justru di khawatirkan menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Pengawasan Lapangan Jadi Tuntutan Warga
Keluhan juga datang dari warga yang melihat sisa material galian masih menumpuk di tikungan sungai dan kawasan padat penduduk. Endapan lumpur yang tidak segera di bersihkan di nilai berpotensi menghambat aliran air saat debit meningkat. Jika di biarkan, tujuan utama normalisasi untuk mengurangi risiko banjir bisa tidak tercapai.
Selain persoalan teknis, lemahnya pengawasan turut menjadi sorotan. Warga meminta pihak balai terkait tidak hanya mengandalkan laporan administrasi, tetapi benar-benar turun langsung ke lapangan. Seorang tokoh masyarakat menilai kondisi di lapangan kerap berbeda dengan laporan tertulis yang disampaikan.
Ketiadaan papan informasi proyek di beberapa titik juga menambah kegelisahan warga. Tanpa informasi mengenai nilai kontrak, target pekerjaan, dan masa pelaksanaan, masyarakat merasa kesulitan ikut mengawasi jalannya proyek. Mereka berharap keterbukaan menjadi bagian dari upaya memastikan normalisasi Batang Merao berjalan sesuai harapan.(Tim)









