KLIKINAJA, KERINCI – Wajah pendakian Gunung Kerinci kembali jadi sorotan setelah sebuah video yang menampilkan tumpukan sampah di Shelter 3 beredar luas di media sosial. Rekaman tersebut pertama kali di unggah oleh akun Facebook bernama Kerinci dan dengan cepat menyedot perhatian warganet.
Di dalam video itu, area shelter yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru di penuhi sampah sisa pendaki. Suara seorang perempuan terdengar menyampaikan sindiran bernada kecewa, menggambarkan ironi keindahan gunung yang tercoreng oleh ulah manusia.
Pendaki dan Pengawasan Pengelola Sama-sama Disorot
Tak butuh waktu lama, kolom komentar pun di penuhi beragam reaksi. Sebagian besar warganet menilai perilaku pendaki yang abai terhadap etika menjadi akar persoalan. Namun, ada pula yang menilai pengawasan di jalur pendakian masih belum maksimal.
Faizah Azizah, salah satu pengguna media sosial, menyuarakan perlunya tindakan tegas dari pengelola wisata. Menurutnya, tanpa sanksi yang jelas, kebiasaan membuang sampah sembarangan akan terus berulang dan berisiko merusak citra Gunung Kerinci di mata pendaki nasional maupun mancanegara.
Pandangan serupa di sampaikan Regiza Nova. Ia menyinggung lemahnya kontrol di pos registrasi, yang di nilai berpengaruh pada rendahnya kepatuhan pendaki terhadap aturan. Ketika edukasi dan pengawasan longgar, pelanggaran pun kerap dianggap sepele.
Komentar lain datang dari Noviandra Abrar yang menyoroti tren pendakian berbasis fomo. Ia menilai sebagian pendaki hanya mengejar pengalaman dan konten, tanpa di barengi kesadaran menjaga lingkungan. Ria Fitria pun meluapkan kekecewaannya, mempertanyakan alasan pendaki enggan membawa kembali sampah mereka saat turun.
Pencinta Alam Ajak Berhenti Saling Menyalahkan
Di tengah riuh perdebatan, Arsya, seorang pencinta alam asal Kerinci, memilih mengambil posisi berbeda. Ia menilai polemik sampah tidak semestinya berakhir pada saling tuding antara pendaki dan pengelola.
Arsya menekankan, siapa pun yang merasa mencintai alam seharusnya tergerak untuk bertindak. Pendaki yang menjumpai sampah di jalur pendakian, menurutnya, lebih baik langsung membersihkan daripada sekadar merekam dan mengunggahnya ke media sosial.
Ia juga mengingatkan bahwa petugas berada jauh di bawah dan tidak mungkin mengetahui secara pasti siapa pelaku pembuangan sampah di atas. Apalagi, papan imbauan larangan membuang sampah sudah terpasang di kawasan pendakian Taman Nasional Kerinci Seblat.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa kelestarian Gunung Kerinci tidak hanya bertumpu pada regulasi dan petugas, melainkan pada kesadaran kolektif para pendaki untuk menjaga alam yang mereka banggakan.(Tim)









