Klikinaja – Konselor HIV di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, dr. Cut Laila, Sp.KKLP, menuturkan bahwa kasus baru terus ditemukan di berbagai fasilitas kesehatan.
“Sejak layanan HIV dibuka di Puskesmas, hampir setiap bulan ada kasus baru yang terdeteksi. Rata-rata hasil tes menunjukkan reaktif,” ujarnya dalam dialog bersama RRI Banda Aceh, Senin (25/8/2025).
Menurut Cut Laila, jumlah penderita yang ditemukan di fasilitas layanan primer saja sudah mencapai ratusan orang. “Kalau di rumah sakit, jumlahnya jauh lebih besar. Hampir semua kabupaten/kota di Aceh sudah ada kasusnya,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, pola penularan HIV/AIDS kini mengalami perubahan. Bila sebelumnya dominan disebabkan penggunaan jarum suntik narkoba, saat ini kasus baru banyak dipicu perilaku seksual yang berisiko, terutama di kalangan anak muda.
“Kelemahan kontrol sosial dalam masyarakat ikut memperburuk situasi ini. Perilaku awal seperti bersentuhan di depan umum tanpa ikatan muhrim dibiarkan begitu saja, sehingga dianggap wajar,” tuturnya.
Menurutnya, kebiasaan kecil yang dianggap sepele tersebut bisa berkembang menjadi perilaku seksual berisiko yang memperbesar peluang penularan HIV. Hal ini membuat generasi muda berada pada posisi paling rentan saat ini.
Cut Laila menekankan pentingnya memperkuat kembali fungsi kontrol sosial di tengah masyarakat. Ia menilai kesadaran kolektif sangat dibutuhkan untuk mencegah penularan sejak dini. “Kalau tidak ada upaya bersama, akan sulit menekan laju peningkatan kasus ini,” tegasnya.
Data Terbaru Kasus HIV/AIDS di Aceh
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Aceh, sejak tahun 2004 hingga Juli 2025 tercatat 1.974 kasus HIV/AIDS. Dari angka tersebut, 1.914 di antaranya merupakan kasus HIV, sedangkan 60 lainnya sudah masuk kategori AIDS.
Tren ini menunjukkan bahwa masalah HIV/AIDS di Aceh masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.
Pemerintah dan masyarakat diimbau untuk terus memperkuat edukasi serta pengawasan terhadap perilaku berisiko. Kesadaran bersama sangat penting agar generasi muda Aceh bisa terlindungi dari ancaman HIV/AIDS di masa depan. (Tim)









