KLIKINAJA – Gelombang dugaan keracunan makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) masih menjadi sorotan di Muaro Jambi. Hingga awal pekan ini, enam pelajar di laporkan belum di perbolehkan pulang dan masih menjalani perawatan intensif di RSUD Ahmad Ripin Sengeti.
Mereka mengalami keluhan mual hebat, muntah, hingga diare setelah menyantap menu soto yang di bagikan oleh dapur layanan MBG pada Jumat lalu. Sejak saat itu, rumah sakit di penuhi pasien yang datang silih berganti dengan gejala serupa.
Pemerintah daerah mencatat total 147 orang, terdiri dari murid dan beberapa guru, sempat mendapatkan penanganan medis. Jumlah korban yang cukup besar membuat peristiwa ini resmi di kategorikan sebagai kejadian luar biasa di wilayah Kabupaten Muaro Jambi.
Mayoritas Pasien Sudah Pulang, Enam Masih di Awasi Ketat
Direktur RSUD Ahmad Ripin Sengeti, Agus Subekti, menjelaskan bahwa kondisi sebagian besar pasien kini berangsur membaik. Puluhan orang hanya membutuhkan perawatan ringan dan di izinkan rawat jalan, sementara lebih dari seratus pasien sempat di rawat inap secara bergantian.
“Dua orang lainnya bahkan harus di pindahkan ke rumah sakit berbeda untuk penanganan lanjutan,” ujarnya.
Agus menuturkan, dari seluruh korban yang masuk sejak hari pertama kejadian, saat ini tersisa enam pasien yang masih di rawat di ruang inap dan terus di pantau tim medis. Fokus rumah sakit kini memastikan kondisi mereka stabil hingga benar-benar pulih.
“Kasus ini menjadi salah satu insiden keracunan massal terbesar yang pernah di tangani dalam beberapa tahun terakhir, memicu kesiapsiagaan ekstra dari tenaga medis dan pemerintah setempat,” sebutnya.
Dapur MBG di Evaluasi, Sanksi Menanti Jika Terbukti Lalai
Tak butuh waktu lama, pemerintah langsung turun tangan mengevaluasi seluruh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyalurkan makanan MBG di wilayah itu.
Kepala regional Jambi dari Badan Gizi Nasional, Adityo Wirapranatha, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menutup mata bila di temukan kesalahan dalam proses pengolahan maupun distribusi makanan.
Ia menyampaikan bahwa dapur yang terbukti melanggar prosedur akan langsung di hentikan sementara untuk di lakukan perbaikan menyeluruh. “Bila insiden serupa kembali terjadi, operasionalnya bisa di cabut secara permanen,” katanya.
Langkah tegas ini di ambil demi menjaga kepercayaan publik terhadap program pemenuhan gizi anak sekolah yang tengah di gencarkan pemerintah.
Sementara itu, penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan Provinsi Jambi. Sampel makanan dan cairan tubuh pasien telah di kirim untuk memastikan sumber kontaminasi.
Program MBG sendiri merupakan salah satu kebijakan prioritas nasional yang di gagas Presiden Prabowo Subianto guna meningkatkan asupan gizi pelajar sekaligus menekan angka stunting.
Insiden di Muaro Jambi menjadi pengingat bahwa pengawasan ketat dari dapur hingga meja makan siswa tak boleh longgar. Tanpa kontrol mutu yang disiplin, program sebaik apa pun bisa berubah menjadi ancaman kesehatan.(Tim)









