KLIKINAJA.COM – Pelepasan jemaah calon haji di wilayah Depati Payung Pondok Tinggi, Minggu (22/3/2026), berlangsung lebih dari sekadar seremoni tahunan. Di Masjid Agung Pondok Tinggi, momen ini berubah menjadi ruang kebersamaan yang memperlihatkan kuatnya ikatan sosial masyarakat.
Warga dari berbagai kalangan hadir, mulai dari tokoh adat, alim ulama, hingga keluarga besar jemaah. Suasana yang tercipta terasa hangat dan penuh makna, memperlihatkan bahwa keberangkatan haji masih dipandang sebagai peristiwa bersama, bukan hanya perjalanan spiritual individu.
Tradisi yang Terjaga di Tengah Perubahan
Wali Kota Sungai Penuh, Alfin, yang hadir bersama Wakil Wali Kota Azhar Hamzah, menekankan bahwa tradisi kenduri dan doa bersama bukan sekadar rutinitas. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari warisan budaya yang masih hidup dan relevan.
Menurutnya, pelepasan jemaah haji menjadi salah satu cara masyarakat menjaga nilai gotong royong dan kebersamaan.
“Momentum ini menggambarkan bagaimana budaya dan kebersamaan tetap terpelihara, bahkan di tengah perubahan zaman,” ujarnya.
Alfin juga mengingatkan bahwa perjalanan haji membutuhkan kesiapan yang tidak ringan. Ia berharap para jemaah menjaga kondisi fisik serta memahami rangkaian ibadah agar dapat menjalankannya dengan lancar. “Persiapan yang matang, baik fisik maupun mental, akan sangat menentukan kelancaran ibadah di Tanah Suci,” katanya.
Harapan Besar di Balik Perjalanan Suci
Di balik suasana haru dan doa yang mengiringi pelepasan, tersimpan harapan besar dari masyarakat. Para jemaah tidak hanya di lepas untuk beribadah, tetapi juga membawa amanah moral untuk kembali dengan nilai-nilai kebaikan.
Alfin menilai, peran jemaah haji tidak berhenti setelah pulang dari Tanah Suci. Mereka di harapkan mampu menjadi teladan di lingkungan masing-masing. “Kami berharap para jemaah kembali dengan membawa semangat baru yang bisa memberi dampak positif bagi masyarakat,” ucapnya.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa ibadah haji memiliki dimensi sosial yang kuat di Sungai Penuh. Tradisi pelepasan menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya kebersamaan, doa, dan nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh, kegiatan seperti ini juga menjadi pengingat bahwa identitas budaya lokal tetap bisa berjalan seiring dengan praktik keagamaan. Kenduri dan doa bersama bukan hanya simbol, tetapi juga jembatan yang menghubungkan generasi lama dengan generasi baru.
Dalam konteks yang lebih luas, pelepasan jemaah haji turut memperkuat kohesi sosial masyarakat. Interaksi antar warga, dukungan moral, serta doa yang di panjatkan bersama menciptakan rasa kebersamaan yang sulit tergantikan oleh aktivitas lain.
Suasana khidmat yang menyelimuti acara ini akhirnya menegaskan satu hal: di balik perjalanan suci menuju Tanah Suci, terdapat kekuatan sosial yang terus hidup dan menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat Sungai Penuh.(Tim)









