KLIKINAJA – Pertandingan perebutan posisi ketiga Gubernur Cup 2026 antara Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) dan Muaro Jambi yang digelar di Stadion Tri Lomba Juang, KONI Jambi, Sabtu (24/1/2026) kemarin, berakhir dengan suasana panas di luar dugaan.
Muaro Jambi keluar sebagai pemenang setelah menundukkan Tanjabbar dengan skor tipis 1-0. Hasil itu memastikan mereka membawa pulang predikat juara tiga turnamen sepak bola antar daerah paling bergengsi di Provinsi Jambi tahun ini.
Gol Tendangan Bebas Yusuf Jadi Penentu Kemenangan
Sejak menit awal, kedua tim tampil agresif dengan intensitas tinggi. Lini tengah di penuhi duel keras, sementara peluang silih berganti tercipta dari kedua sisi lapangan.
Kebuntuan pecah pada menit ke-21 babak pertama. Yusuf, gelandang Muaro Jambi, sukses mengeksekusi tendangan bebas dengan akurasi sempurna. Bola melengkung melewati pagar hidup dan bersarang di sudut gawang tanpa mampu di jangkau kiper Tanjabbar.
Gol tersebut menjadi satu-satunya pembeda hingga pertandingan berakhir. Meski Tanjabbar meningkatkan tekanan di babak kedua, pertahanan rapat Muaro Jambi membuat skor tetap bertahan.
Emosi Memuncak, Pemain Tanjabbar Kejar Wasit
Ketegangan justru mencapai puncaknya setelah peluit panjang tanda pertandingan selesai di bunyikan.
Sejumlah pemain Tanjabbar terlihat berlari mengejar wasit yang memimpin jalannya laga. Dalam situasi tersebut, seorang pemain bahkan melemparkan air mineral ke arah sang pengadil lapangan sebagai bentuk luapan emosi.
Panitia penyelenggara bersama petugas keamanan langsung turun tangan. Wasit segera di amankan dan di bawa menjauh dari area lapangan untuk mencegah kericuhan meluas.
Aksi itu sontak menyita perhatian penonton di stadion. Tak butuh waktu lama, potongan video insiden tersebut menyebar luas di media sosial dan memicu gelombang reaksi publik.
Banyak warganet mengecam tindakan para pemain yang di anggap mencederai nilai sportivitas sepak bola. Desakan agar panitia turnamen menjatuhkan sanksi tegas pun bermunculan.
Seorang pengguna media sosial menuliskan bahwa perilaku mengejar wasit tidak layak terjadi di kompetisi resmi, terlebih di ajang pembinaan atlet daerah.
Sampai saat ini, pihak panitia Gubernur Cup 2026 belum menyampaikan keputusan terkait kemungkinan hukuman bagi tim Tanjabbar.
Sebagai turnamen yang rutin di gelar untuk melahirkan bibit pesepak bola lokal, Gubernur Cup seharusnya menjadi panggung adu prestasi, bukan pelampiasan emosi.
Insiden ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara agar aspek di siplin dan edukasi sportivitas di perketat di edisi berikutnya.(Tim)









