Dua Aplikasi Terkenal di Indonesia Mempromosikan Aktivitas Terlarang, Senator AS Mendesak Penyelidikan Meta

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 26 November 2025 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Media Sosial Credit: pexels.com/Tracy...

Ilustrasi Media Sosial Credit: pexels.com/Tracy...

KLIKINAJA – Meta kembali menjadi sorotan wakil rakyat di Washington. Kali ini, perusahaan induk Facebook dan Instagram itu dituding mengambil keuntungan besar dari iklan yang mempromosikan aktivitas terlarang. Dua senator Amerika Serikat, Josh Hawley dan Richard Blumenthal, mendesak pemerintah federal melakukan tindakan cepat untuk menelusuri dugaan tersebut.

Dalam surat resmi yang ditujukan kepada Komisi Perdagangan Federal (FTC) dan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC), Hawley dan Blumenthal meminta investigasi menyeluruh atas potensi pendapatan Meta dari iklan yang dianggap menyesatkan dan melanggar hukum. Mereka menilai situasi ini tidak hanya merugikan publik, tetapi juga mencoreng integritas ekosistem periklanan digital.

Menurut keduanya, laporan terbaru menunjukkan tanda-tanda bahwa aliran dana dari iklan ilegal bukanlah kasus sporadis, melainkan masalah sistemik. Mereka mendorong FTC dan SEC mengambil langkah hukum jika terbukti ada pelanggaran, termasuk pengembalian keuntungan dan pemberlakuan denda signifikan.

Hawley dan Blumenthal juga mempertanyakan efektivitas sistem pemeriksaan iklan Meta. Library iklan milik perusahaan itu disebut memuat konten yang secara terang-terangan mempromosikan aktivitas ilegal, mulai dari judi online yang tidak berizin hingga skema penipuan pembayaran dan kripto. Beberapa iklan bahkan menawarkan layanan yang memanfaatkan teknologi deepfake untuk tujuan seksual, serta berbagai penawaran palsu lainnya.

Baca Juga :  Waspada! VPN Gratis Bisa Bikin Data Pribadi Bocor

Masalah ini mencuat setelah laporan investigasi Reuters menyebut Meta memperoleh sekitar US$16 miliar—sekitar Rp266 triliun—dari iklan terlarang sepanjang tahun lalu. Angka tersebut setara dengan 10 persen dari total pendapatan perusahaan. Temuan lain dari dokumen internal menunjukkan Meta meraup setidaknya US$3,5 miliar (Rp58,2 triliun) setiap enam bulan dari iklan berisiko tinggi yang rawan penipuan.

Laporan itu juga menyoroti lemahnya penerapan kebijakan anti-penipuan di platform Meta. Banyak iklan bermasalah yang tetap lolos moderasi, sementara sebagian karyawan internal diduga tidak menjalankan kebijakan sebagaimana mestinya. Kondisi ini dianggap memperbesar risiko bagi pengguna sekaligus membuka ruang bagi pelaku kejahatan digital untuk memanfaatkan platform yang memiliki miliaran pengguna tersebut.

Meta membantah seluruh dugaan tersebut. Juru bicara perusahaan, Andy Stone, menegaskan bahwa Meta tidak pernah menginginkan konten berbahaya di platformnya. Ia menyebut temuan Reuters serta tuduhan para senator sebagai “klaim yang dibesar-besarkan.” Stone juga mengatakan laporan penipuan yang diajukan pengguna justru menurun hingga 58 persen dalam 18 bulan terakhir, menandakan adanya peningkatan sistem keamanan dan moderasi iklan.

Baca Juga :  UMK Sumatera Barat 2025 Naik, Padang Panjang Jadi Sorotan dengan Kenaikan 6,5 Persen

Meski begitu, desakan untuk melakukan investigasi tetap menguat di kalangan legislator AS. Otoritas federal kini diharapkan dapat memperjelas apakah praktik periklanan Meta benar-benar mematuhi regulasi, atau justru memanfaatkan celah untuk meraih keuntungan dari iklan yang merugikan publik.

Keputusan FTC dan SEC dalam menanggapi permintaan tersebut akan menjadi penentu langkah berikutnya. Jika investigasi resmi dibuka, Meta harus menghadapi pemeriksaan mendalam mengenai praktik monetisasi iklan di platformnya—sebuah isu yang bisa berpengaruh terhadap regulasi industri teknologi secara lebih luas.

Kasus ini menambah panjang daftar kritik terhadap Meta terkait moderasi konten dan transparansi iklan. Hasil penyelidikan nantinya akan menjadi acuan penting bagi masa depan pengawasan platform digital di Amerika Serikat.(Tim)

Berita Terkait

Dua Pelari Tewas saat Trail Run Gunung Lawu 2025, Ini Penyebabnya
Harga Emas Hari Ini 8 Desember 2025, Cek Daftar Lengkap Antam, Galeri 24, dan UBS
Toyota Kijang Super 2026 Hadir dengan Desain Retro dan Teknologi Hybrid Modern
Cara Cepat Mendapatkan Uang dari FB Pro untuk Pemula, Simak Panduannya
10 Cara Efektif Menaikkan Followers Instagram Secara Cepat
Meniti Kabel dan Terjun ke Arus Deras, Babinsa Selamatkan 20 Warga Saat Banjir 4 Meter di Aceh Tamiang
Deretan Motor Baru Honda 2026 Siap Ramaikan Pasar Indonesia
Isuzu Panther Tetap Menyala Usai Terendam Banjir, Video Ini Viral di Medsos

Berita Terkait

Senin, 8 Desember 2025 - 15:00 WIB

Dua Pelari Tewas saat Trail Run Gunung Lawu 2025, Ini Penyebabnya

Senin, 8 Desember 2025 - 08:00 WIB

Harga Emas Hari Ini 8 Desember 2025, Cek Daftar Lengkap Antam, Galeri 24, dan UBS

Senin, 8 Desember 2025 - 07:00 WIB

Toyota Kijang Super 2026 Hadir dengan Desain Retro dan Teknologi Hybrid Modern

Minggu, 7 Desember 2025 - 15:00 WIB

Cara Cepat Mendapatkan Uang dari FB Pro untuk Pemula, Simak Panduannya

Minggu, 7 Desember 2025 - 14:00 WIB

10 Cara Efektif Menaikkan Followers Instagram Secara Cepat

Berita Terbaru

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Sungai Penuh Yogi Purnomo menerima penghargaan dari Kejati Jambi.

Uncategorized

Kinerja Pidsus Kejari Sungai Penuh 2025 Jadi Terbaik di Jambi

Senin, 8 Des 2025 - 20:36 WIB

Cabai.

Uncategorized

Cara Menyimpan Cabai agar Awet 21 Hari, Anti Lembek dan Jamur

Senin, 8 Des 2025 - 20:13 WIB

Uncategorized

Seorang Pria Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Tanjung Pauh Hilir

Senin, 8 Des 2025 - 19:20 WIB