KLIKINAJA – Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Muaro Jambi pada 2025 menunjukkan perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya. Data terbaru mencatat pertumbuhan ekonomi daerah tersebut berada di angka 4,50 persen, turun dari capaian 6,33 persen pada 2024.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Muaro Jambi, Edy Subagiyo, mengungkapkan perlambatan itu tidak terlepas dari melemahnya kinerja beberapa sektor ekonomi utama, terutama sektor konstruksi yang mengalami penurunan cukup tajam.
“Pada 2025 pertumbuhan ekonomi Muaro Jambi tercatat sebesar 4,50 persen, lebih rendah di bandingkan tahun 2024 yang mencapai 6,33 persen,” ujar Edy.
Menurutnya, gambaran struktur ekonomi tahun ini memperlihatkan ketimpangan antar sektor. Sejumlah sektor memang tumbuh cukup tinggi, tetapi kontribusinya belum mampu mengimbangi sektor lain yang justru mengalami penurunan besar.
Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), tiga sektor menjadi penggerak utama ekonomi Muaro Jambi sepanjang 2025. Sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk jasa reparasi mobil dan sepeda motor, mencatat pertumbuhan paling tinggi yakni 8,85 persen.
Pertumbuhan berikutnya datang dari sektor informasi dan komunikasi sebesar 8,42 persen, serta transportasi dan pergudangan yang meningkat 7,53 persen.
“Kategori perdagangan serta informasi dan komunikasi masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah. Konsumsi masyarakat juga relatif terjaga,” jelasnya.
Kinerja sektor-sektor tersebut menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi dan mobilitas masyarakat masih cukup stabil, sehingga mampu menopang sebagian pertumbuhan ekonomi daerah.
Sektor Konstruksi Mengalami Penurunan Tajam
Di tengah pertumbuhan sejumlah sektor, konstruksi justru mencatat kontraksi paling dalam. Pada 2025 sektor ini menyusut hingga minus 8,54 persen, menjadi penurunan tertinggi di antara seluruh lapangan usaha di Muaro Jambi.
Padahal setahun sebelumnya, sektor konstruksi termasuk salah satu tulang punggung dalam struktur perekonomian daerah.
Edy menjelaskan, turunnya sektor konstruksi berkaitan dengan berkurangnya aktivitas proyek-proyek besar yang sebelumnya berlangsung di wilayah Muaro Jambi.
Beberapa proyek strategis yang berpengaruh antara lain pembangunan Jalan Tol Sebapo–Pijoan serta Stadion Swarna Bumi. Pada 2025, intensitas pekerjaan proyek berskala besar tersebut menurun di bandingkan tahun sebelumnya.
“Ketika proyek besar berkurang, nilai tambah sektor konstruksi ikut menurun. Padahal sektor ini selama ini memiliki kontribusi cukup besar terhadap PDRB Muaro Jambi,” katanya.
Penurunan sektor konstruksi ini berdampak luas karena sektor tersebut memiliki keterkaitan erat dengan berbagai kegiatan ekonomi lain. Industri bahan bangunan, jasa transportasi, hingga layanan keuangan biasanya ikut bergerak ketika proyek pembangunan berlangsung.
“Ketika proyek konstruksi melambat atau berhenti, dampaknya akan di rasakan oleh berbagai sektor yang terhubung dengannya,” jelas Edy.
Aktivitas Proyek Berkurang, Ekonomi Tetap Tumbuh
Edy juga menjelaskan bahwa dalam konsep penghitungan PDRB, aktivitas ekonomi dicatat berdasarkan lokasi kegiatan berlangsung. Sumber pendanaan proyek tidak memengaruhi pencatatan tersebut.
Dengan kata lain, meskipun proyek di danai pemerintah pusat, selama aktivitas pembangunan berlangsung di Muaro Jambi maka seluruh nilai ekonominya tetap tercatat sebagai bagian dari PDRB daerah.
Hal inilah yang membuat proyek-proyek berskala nasional memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. Ketika intensitas proyek menurun, dampaknya langsung terasa pada angka pertumbuhan daerah.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti perekonomian Muaro Jambi berada dalam situasi negatif. Angka pertumbuhan masih berada di zona positif dan menunjukkan aktivitas ekonomi tetap berjalan.
“Kita masih berada dalam zona pertumbuhan. Ke depan yang penting adalah bagaimana mempertahankan momentum dan memperkuat sektor yang lebih resilien,” pungkasnya.(Tim)









