KLIKINAJA, KERINCI – Menjelang penghujung tahun 2025, cuaca ekstrem mulai melanda Kabupaten Kerinci, Jambi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kerinci memperingatkan adanya peningkatan intensitas hujan yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Kerinci, Dedi Andrizal, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap wilayah yang memiliki risiko tinggi bencana alam, khususnya tanah longsor. Hasilnya, enam kecamatan ditetapkan sebagai daerah rawan.
“Kecamatan Siulak Mukai, Air Hangat, Depati Tujuh, Batang Merangin, Air Hangat Timur, dan Kayu Aro Barat merupakan kawasan yang perlu mendapat perhatian serius karena berada di sekitar aliran sungai dan perbukitan,” jelas Dedi, Kamis (6/11/2025).
Ia menambahkan, kondisi geografis Kerinci yang dikelilingi pegunungan membuat wilayah tersebut rentan terhadap pergerakan tanah, terutama saat curah hujan meningkat. Karena itu, koordinasi lintas instansi dilakukan untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di tingkat kecamatan.
Sebagai langkah antisipatif, BPBD Kerinci telah menyiapkan alat berat dan personel siaga di enam kecamatan tersebut. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat proses evakuasi dan penanganan apabila bencana terjadi secara tiba-tiba.
“Kami sudah menempatkan peralatan dan tim di lokasi rawan agar bisa segera bergerak jika terjadi longsor,” ujarnya.
Selain kesiapan peralatan, BPBD juga gencar melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai tanda-tanda awal longsor dan cara melapor cepat melalui posko BPBD. Dedi mengingatkan warga agar tidak mengabaikan gejala alam seperti retakan tanah atau munculnya mata air baru di lereng perbukitan.
“Kami mengimbau warga untuk tetap waspada, terutama ketika hujan turun terus-menerus. Jika menemukan tanda-tanda pergerakan tanah, segera laporkan ke BPBD agar bisa ditindaklanjuti secepatnya,” tegasnya.
Fenomena cuaca akhir tahun ini memang cenderung tidak menentu. Berdasarkan data prakiraan cuaca, intensitas hujan di wilayah barat Jambi diperkirakan meningkat hingga 40 persen dibanding bulan sebelumnya, yang berpotensi memperparah kondisi tanah di daerah berbukit.
BPBD Kerinci juga berkoordinasi dengan pemerintah desa dan relawan setempat untuk memperkuat sistem peringatan dini. Dengan dukungan masyarakat, diharapkan potensi kerugian akibat bencana dapat diminimalkan.
Dengan potensi cuaca ekstrem yang meningkat, masyarakat di Kabupaten Kerinci diimbau untuk tetap siaga dan mengikuti arahan pemerintah daerah. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko bencana di wilayah rawan longsor tersebut.(Dea)









