KLIKINAJA – Di balik rimbunnya hutan Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, sebuah lanskap alam yang lama tersembunyi akhirnya mendapat nama dan pengakuan resmi.
Dusun Sekeladi kini memiliki identitas baru setelah Gubernur Jambi, Al Haris, menetapkannya sebagai Taman Raja Batu Sekaladi dalam kunjungan kerja yang di rangkai dengan agenda Safari Ramadan.
Penamaan itu bukan sekadar seremoni. Di hadapan tokoh adat dan warga setempat, Al Haris menyampaikan bahwa kawasan tersebut memiliki karakter alam yang jarang di temui di tempat lain.
Gugusan batu berukuran raksasa, sedang, hingga kecil membentang di sepanjang aliran sungai yang airnya jernih. Kombinasi itu membentuk panorama alami yang kuat secara visual sekaligus menyimpan nilai sejarah.
Lanskap Batu Purba di Tepian Sungai Batang Asai
Dusun Sekeladi berada cukup jauh dari pusat keramaian kota. Justru jarak itulah yang menjaga keaslian alamnya. Di tepian sungai, batu-batu besar berdiri kokoh dengan bentuk tak beraturan ada yang menyerupai pilar, ada pula yang melebar seperti singgasana alami.
Al Haris menggambarkan kekagumannya terhadap struktur batu yang unik dan beragam ukuran tersebut. Ia menilai, keberadaan formasi batu ini bukan hanya fenomena geologi biasa, melainkan penanda kekayaan alam yang memiliki jejak sejarah panjang.
“Batu-batu di sini memiliki bentuk yang sangat unik, ada yang besar, kecil, dan beragam. Ini menunjukkan kekayaan alam yang luar biasa,” ujar Al Haris saat berada di lokasi.
Ia juga menekankan bahwa kawasan tersebut perlu di jaga karena diyakini menyimpan nilai peradaban dan fenomena alam yang tidak bisa di gantikan.
“Tempat seperti ini bukan sekadar objek wisata, tapi juga bagian dari sejarah dan kekayaan geologi yang harus kita rawat bersama,” katanya.
Dorong Ekonomi Warga Tanpa Mengorbankan Alam
Penetapan nama Taman Raja Batu Sekaladi menjadi langkah awal untuk mendorong Dusun Sekeladi keluar dari stigma wilayah terpencil. Pemerintah Provinsi Jambi berharap kawasan ini tumbuh menjadi destinasi unggulan yang memperkuat sektor pariwisata daerah.
Al Haris menegaskan harapannya agar kawasan tersebut berkembang menjadi ikon wisata baru di Jambi. Namun pengembangannya di arahkan pada konsep wisata berkelanjutan, sehingga keindahan alam tetap terjaga dan tidak rusak oleh aktivitas berlebihan.
“Saya berharap Taman Raja Batu Sekaladi ini ke depan bisa menjadi ikon wisata Provinsi Jambi,” tegasnya.
Pengembangan wisata alam seperti ini di nilai strategis untuk wilayah Batang Asai. Akses yang menantang justru bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan minat khusus, seperti pencinta alam, fotografer lanskap, hingga komunitas trekking.
Jika dikelola dengan perencanaan matang mulai dari infrastruktur dasar, promosi digital, hingga pelibatan masyarakat lokal sebagai pemandu dan pelaku UMKM kawasan ini berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi warga.
Di banyak daerah, destinasi berbasis geowisata terbukti mampu menggerakkan ekonomi tanpa merusak ekosistem, asalkan tata kelolanya disiplin. Model seperti itu bisa di terapkan di Sekaladi, dengan pembatasan area sensitif dan edukasi kepada pengunjung tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai.
Kini, Dusun Sekeladi memasuki babak baru. Dari kawasan yang sunyi di pedalaman Sarolangun, Taman Raja Batu Sekaladi bersiap menapaki panggung wisata Jambi membawa harapan agar keelokan alam Batang Asai di kenal lebih luas.(Tim)









