Uji Coba Turbin PLTA Kerinci Disorot, Danau Menyusut dan Ekosistem Terancam

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 28 Januari 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerhati Lingkungan Kerinci - Sungai Penuh juga Manajer Biodiversity dan Wildlife Perkumpulan Wahana Mitra Mandiri, Yose Chua

Pemerhati Lingkungan Kerinci - Sungai Penuh juga Manajer Biodiversity dan Wildlife Perkumpulan Wahana Mitra Mandiri, Yose Chua

KLIKINAJA – Uji coba pengaliran turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang berlangsung sejak 1 hingga 16 Januari 2026 memicu kekhawatiran serius di kalangan pemerhati lingkungan.

Penyusutan air Danau Kerinci yang terjadi dalam waktu singkat di nilai bukan sekadar fenomena teknis, melainkan sinyal ancaman terhadap keseimbangan ekologis dan kehidupan masyarakat sekitar.

Manajer Biodiversity dan Wildlife Perkumpulan Wahana Mitra Mandiri, Yose Chua, menyoroti klaim bahwa hanya satu dari tiga pintu air yang di buka setinggi 20 sentimeter selama uji coba. Menurutnya, ukuran teknis semacam itu tidak bisa di jadikan alasan untuk menepis dampak yang tampak jelas di lapangan.

“Danau Kerinci bukan sekadar wadah air untuk kepentingan turbin. Ia adalah ekosistem hidup yang menopang biodiversitas, perikanan rakyat, serta keseimbangan lingkungan,” ujar Yose.

Ia menjelaskan bahwa perubahan muka air secara cepat berpotensi mengganggu habitat ikan, merusak siklus biologis, hingga menurunkan kualitas air yang selama ini menjadi tumpuan aktivitas warga. Kerusakan semacam ini, lanjutnya, tidak bisa diselesaikan dalam hitungan hari.

“Merusak ekosistem air itu sangat mudah. Namun untuk menghidupkan kembali, memperbaiki, atau memulihkannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar,” tegasnya.

Baca Juga :  Sejak 2010 hingga 2026, Jejak Waktu Danau-Danau di Indonesia yang Pernah Surut

Tak hanya soal lingkungan, Yose juga mengangkat isu kompensasi bagi warga yang terdampak penyusutan air dan terganggunya aktivitas ekonomi. Ia mempertanyakan transparansi mekanisme serta keberlanjutan kebijakan tersebut.

“Kalaupun warga di beri kompensasi akibat berkurangnya air dan terganggunya aktivitas ekonomi, lalu bagaimana dengan ekosistem yang rusak? Apakah ada langkah pemulihan yang konkret? Alam tidak bisa diganti dengan uang,” katanya.

Menurut Yose, hingga kini belum terlihat adanya rencana terbuka mengenai rehabilitasi danau maupun strategi mitigasi kerusakan akibat uji coba turbin. Padahal, uji coba hanyalah tahap awal sebelum PLTA beroperasi penuh setiap hari.

Ia juga mengkritik minimnya sosialisasi kepada masyarakat sebelum proses uji coba di lakukan. Keputusan teknis yang berdampak langsung terhadap ruang hidup publik, kata Yose, semestinya melibatkan warga sejak awal.

“Danau ini bukan milik proyek semata. Ia memiliki nilai ekologis, sosial, dan kultural. Ketika kebijakan di jalankan tanpa melibatkan masyarakat, itu mencerminkan pembangunan yang menempatkan warga hanya sebagai penonton,” ujarnya.

Baca Juga :  Warga Lubuk Paku Protes PLTA Kerinci, Soroti Pencemaran Sungai

Kekhawatiran semakin besar ketika berbicara soal jangka panjang. Yose mempertanyakan bagaimana kondisi danau jika operasi penuh PLTA berlangsung tanpa keterbukaan data debit air, kajian dampak lingkungan yang bisa di akses publik, serta pengawasan independen.

“Jika uji coba saja sudah menyusutkan air danau, apa yang akan terjadi saat operasi penuh berlangsung setiap hari?” katanya.

Dalam pandangannya, transisi energi seharusnya tidak berjalan dengan mengorbankan sumber kehidupan masyarakat. Danau Kerinci, menurut Yose, perlu di perlakukan sebagai ruang hidup bersama, bukan sekadar suplai bagi mesin turbin.

“Tanpa perubahan cara pandang menuju pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan, uji coba ini bisa menjadi awal krisis lingkungan,” pungkasnya.

Fenomena ini kembali menegaskan pentingnya keseimbangan antara proyek energi dan perlindungan sumber daya alam. Di banyak wilayah, pengelolaan PLTA yang minim pengawasan sering berujung pada degradasi ekosistem perairan, mulai dari sedimentasi hingga hilangnya spesies lokal. Jika tidak di antisipasi sejak awal, dampak sosial dan ekologisnya bisa jauh lebih besar di banding manfaat energi yang di hasilkan.(Tim)

Berita Terkait

Al Haris Pastikan Dana Nasabah Bank Jambi Diganti
Ratusan PPPK Paruh Waktu di Merangin Masih Menunggu Kepastian Gaji
Disetujui Gubernur, PPPK Paruh Waktu Provinsi Jambi Akan Terima THR, Ini Jumlahnya
Empat Petugas Lapas Sarolangun Disanksi Setelah Tes Urine Positif Narkoba
Besaran Zakat Fitrah 2026 di Kota Sungai Penuh Resmi Ditetapkan
Puluhan Napi Lapas Sarolangun Positif Narkoba, Warga Soroti Pengawasan
Wali Kota Sungai Penuh Safari Ramadan di Masjid Taqwa, Serahkan Bantuan Pembangunan
22 Napi Lapas Sarolangun Positif Narkoba, Dipindah ke Sejumlah Lapas di Jambi
Berita ini 110 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 15:00 WIB

Al Haris Pastikan Dana Nasabah Bank Jambi Diganti

Sabtu, 7 Maret 2026 - 11:00 WIB

Ratusan PPPK Paruh Waktu di Merangin Masih Menunggu Kepastian Gaji

Sabtu, 7 Maret 2026 - 09:00 WIB

Empat Petugas Lapas Sarolangun Disanksi Setelah Tes Urine Positif Narkoba

Jumat, 6 Maret 2026 - 21:00 WIB

Besaran Zakat Fitrah 2026 di Kota Sungai Penuh Resmi Ditetapkan

Jumat, 6 Maret 2026 - 20:00 WIB

Puluhan Napi Lapas Sarolangun Positif Narkoba, Warga Soroti Pengawasan

Berita Terbaru

Daerah

Al Haris Pastikan Dana Nasabah Bank Jambi Diganti

Sabtu, 7 Mar 2026 - 15:00 WIB