KLIKINAJA.COM – Perayaan Hari Raya Idulfitri selalu menghadirkan kebahagiaan yang identik dengan kebersamaan keluarga dan sajian kuliner khas yang melimpah. Namun, di tengah suasana tersebut, ancaman gangguan kesehatan kerap mengintai, terutama ketika pola makan berubah drastis setelah sebulan berpuasa.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sungai Penuh, Gunardi, mengungkapkan bahwa beberapa hari setelah Lebaran biasanya terjadi peningkatan kasus penyakit ringan hingga sedang di masyarakat. Dua kondisi yang paling sering di laporkan adalah demam dan diare.
Menurutnya, kondisi ini erat kaitannya dengan perubahan pola konsumsi yang terjadi secara tiba-tiba. Setelah menjalani pola makan terbatas selama Ramadan, banyak orang langsung mengonsumsi makanan dalam jumlah besar, terutama hidangan tinggi lemak, santan, dan gula.
“Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali setelah Ramadan. Ketika asupan makanan meningkat tiba-tiba tanpa kontrol, risiko gangguan kesehatan tentu ikut meningkat,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Perubahan Pola Makan Picu Gangguan Pencernaan
Gunardi menjelaskan, selama Ramadan sistem pencernaan terbiasa dengan ritme makan yang lebih teratur. Ketika kebiasaan ini berubah secara mendadak, tubuh bisa mengalami tekanan, terutama pada sistem pencernaan.
Akibatnya, berbagai keluhan seperti perut kembung, mual, hingga di are menjadi kondisi yang sering di alami masyarakat usai Lebaran. Bahkan, dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat berkembang jika tidak segera di tangani dengan baik.
Fenomena ini bukan hal baru. Setiap tahun, fasilitas kesehatan kerap mencatat lonjakan kunjungan pasien dengan keluhan serupa setelah Hari Raya. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat masih perlu terus di tingkatkan.
Imbauan Jaga Pola Hidup Seimbang
Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat diimbau tetap menjaga keseimbangan dalam mengonsumsi makanan, meski masih dalam suasana perayaan. Memilih makanan bergizi, memperbanyak asupan air putih, serta mengontrol konsumsi makanan manis dan berlemak menjadi langkah yang efektif menjaga kondisi tubuh.
Gunardi juga menekankan pentingnya kepekaan terhadap kondisi fisik. Jika tubuh mulai menunjukkan gejala seperti demam tinggi, diare berkepanjangan, atau rasa lemas yang tidak biasa, masyarakat di sarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Lebaran memang momen kebahagiaan, tapi kesehatan tetap harus jadi prioritas agar aktivitas bisa kembali normal tanpa hambatan,” tutupnya.
Di sisi lain, menjaga kesehatan setelah Lebaran juga bisa di mulai dari langkah sederhana, seperti mengatur porsi makan secara bertahap dan kembali ke pola makan teratur seperti sebelum hari raya. Aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki, juga dapat membantu tubuh beradaptasi lebih cepat.
Dengan kesadaran dan pengendalian diri, masyarakat tetap bisa menikmati suasana Lebaran tanpa harus mengorbankan kesehatan. Momentum kebersamaan pun akan terasa lebih sempurna ketika tubuh tetap bugar dan terjaga.(Tim)









