KLIKINAJA.COM – Sejumlah objek wisata milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kerinci kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Kondisi fasilitas yang di nilai tidak terawat, di tambah keluhan soal tarif masuk dan parkir, memicu kritik terbuka dari warga dan pengunjung.
Salah satu yang di soroti adalah Air Terjun Telun Berasap. Destinasi unggulan ini di sebut mengalami penurunan kualitas setelah terdampak longsor dan pohon tumbang. Hingga kini, beberapa fasilitas penting seperti pondok untuk bersantai maupun spot foto belum juga di perbaiki.
“Dulu ada tempat untuk menikmati pemandangan dan berfoto, sekarang sudah tidak ada lagi. Sampai sekarang belum di perbaiki,” ujar Doni salah seorang pengunjung.
Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Danau Kerinci, khususnya di area dermaga. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini di sebut semakin sepi pengunjung. Salah satu penyebabnya adalah isu tarif parkir dan tiket masuk yang kerap menjadi keluhan dan berulang kali viral di media sosial.
“Tarifnya sering di keluhkan mahal, tapi fasilitasnya tidak ada perubahan. Itu-itu saja,” kata warga setempat.
Fasilitas Minim, Pengunjung Beralih
Keluhan tidak hanya datang dari masyarakat lokal. Wisatawan dari luar daerah kini mulai beralih ke destinasi lain yang di nilai lebih nyaman dan terjangkau. Kebun teh, objek wisata milik pribadi, hingga yang di kelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi alternatif pilihan.
Faktor utama perpindahan ini bukan sekadar harga, tetapi juga kualitas fasilitas yang di anggap lebih terawat dan sesuai dengan biaya yang di keluarkan.
Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa daya saing wisata milik Pemkab Kerinci mulai menurun. Tanpa pembenahan serius, bukan tidak mungkin objek wisata daerah akan semakin di tinggalkan.
Desakan Evaluasi dan Pembenahan
Masyarakat menilai Pemkab Kerinci, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh. Isu tarif mahal yang terus berulang setiap tahun di nilai merusak citra pariwisata daerah.
Kritik juga mengarah pada minimnya inovasi dan perawatan fasilitas. Padahal, sektor pariwisata memiliki potensi besar dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika di kelola secara profesional dan transparan.
“Kalau di biarkan seperti ini, wisata milik pemerintah bisa benar-benar di tinggalkan. Orang pasti pilih tempat yang lebih murah dan fasilitasnya jelas,” ujar Rian salah satu warga.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pengelolaan wisata tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam. Perawatan fasilitas, transparansi tarif, serta pengalaman pengunjung menjadi faktor penentu dalam menarik minat wisatawan.
Di berbagai daerah, pengelolaan wisata yang baik terbukti mampu meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Kerinci memiliki potensi besar, namun tanpa pembenahan serius, peluang tersebut bisa hilang.
Kini, publik menunggu langkah konkret dari Pemkab Kerinci. Momentum perbaikan di nilai tidak bisa lagi di tunda, jika ingin mengembalikan kepercayaan wisatawan dan menjaga nama baik pariwisata daerah.(Tim)






