KLIKINAJA, KERINCI – Hujan deras yang berlangsung berjam-jam di Kabupaten Kerinci pada Kamis (27/11/2025) memicu banjir cepat dan beberapa titik longsor. Sejumlah kawasan dataran rendah tergenang hingga setinggi pinggang, sementara akses antardesa sempat terputus karena material tanah dan batu terbawa arus dari perbukitan.
Menurut laporan awal petugas lapangan, banjir mulai terjadi setelah hujan tanpa henti lebih dari enam jam. Air sungai langsung meluap dan mengalir deras ke permukiman, terutama di Kecamatan Depati 7, Siulak Mukai, dan Semurup—wilayah yang selama ini dikenal rawan ketika curah hujan meningkat.
Banjir Datang Mendadak, Infrastruktur Ikut Terdampak
Warga Depati 7 menjadi salah satu yang paling merasakan dampak ketika air naik tiba-tiba pada sore hari. Rumah dan jalan lingkungan tergenang hingga setinggi lutut bahkan pinggang. Sebagian keluarga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat demi mengantisipasi hujan susulan.
Di Siulak Mukai, hujan memicu aliran lumpur dan bebatuan dari bukit yang mengganggu mobilitas warga. Selain menghambat aktivitas harian, kondisi ini juga mengganggu distribusi barang kebutuhan pokok dan layanan kesehatan. Sementara itu, fasilitas umum di Semurup turut terendam, membuat beberapa kegiatan pelayanan masyarakat dihentikan sementara.
Meski skala longsor masih tergolong kecil, petugas menilai potensi pergerakan tanah dapat meningkat bila curah hujan tinggi kembali terjadi.
Pemerintah Kerinci Perkuat Koordinasi Lapangan
Bupati Kerinci Monadi didampingi Kepala Dinas PUPR, Maya Novfebri Handayani, meninjau sejumlah titik banjir pada Kamis malam. Pemerintah daerah menegaskan bahwa penanganan tidak hanya berfokus pada inspeksi lapangan, melainkan juga penguatan koordinasi antarlembaga.
BPBD Kerinci diminta mempercepat alur informasi dari desa dan kecamatan agar kondisi lapangan dapat terpantau real-time. Pemetaan risiko banjir susulan serta indikasi longsor menjadi prioritas utama.
“Keselamatan warga tetap yang paling penting. Pemantauan tidak boleh terhenti, apalagi di wilayah yang sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan tanah,” ujar Bupati Monadi dalam pengarahan kepada petugas.
Pemerintah juga menekankan pentingnya mengikuti informasi resmi, mengingat banyaknya kabar tidak valid yang kerap beredar ketika banjir terjadi.
“Warga diimbau tetap waspada, tetapi tidak perlu panik. Yang terpenting adalah mengikuti arahan petugas agar penanganan bisa berjalan efektif,” tambah Bupati.
Ancaman Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut
Prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi menempatkan Kerinci dalam status waspada karena hujan intens diprediksi masih berlangsung beberapa hari ke depan. Kondisi geografis yang dikelilingi pegunungan membuat wilayah ini rentan terhadap banjir bandang maupun longsor.
Untuk mengurangi dampak bencana, pemerintah daerah menyiapkan skenario penanganan jangka pendek, seperti pembukaan akses alternatif bila jalan utama tertutup material longsor. Drainase darurat juga mulai dikerjakan di beberapa titik untuk mempercepat aliran air dan mencegah genangan susulan.
Dengan kondisi cuaca yang masih tidak stabil, warga diminta terus meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor jika menemukan tanda-tanda pergerakan tanah atau kenaikan debit air.(Dea)









