KLIKINAJA – Melalui pengumuman di situs resminya, BNI menegaskan bahwa layanan Phone Banking tidak lagi bisa di gunakan setelah tanggal 15 Desember 2025. Nasabah yang belum memindahkan aktivitas transaksinya ke platform digital di minta segera melakukan peralihan.
Jika tidak melakukan migrasi, permintaan transaksi via Phone Banking tidak akan di proses.
Seiring penghentian layanan itu, BNI juga mengingatkan nasabah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan. Perseroan menegaskan tidak pernah meminta informasi sensitif seperti OTP, PIN, CVC, User ID, maupun kata sandi dalam kondisi apa pun.
Dari sisi kinerja keuangan, hingga kuartal III/2025 BNI secara konsolidasi mencatat laba bersih sebesar Rp15,12 triliun.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyampaikan, penguatan kualitas portofolio kredit serta pengelolaan pendanaan yang disiplin membuat BNI tetap solid di tengah di namika pasar.
Kinerja permodalan BNI juga terjaga kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 21,1 persen dan Tier-1 Capital yang solid. Likuiditas berada pada level aman, tercermin dari LDR 86,9 persen, LCR 167,4 persen, serta NSFR 142,1 persen.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL gross) tercatat sekitar 2,0 persen, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 10,4 persen. Total kredit yang disalurkan BNI tumbuh 10,5 persen secara tahunan menjadi Rp812,2 triliun, dengan pertumbuhan merata di segmen korporasi, menengah, dan UMKM.
Direktur Finance dan Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menilai pertumbuhan yang seimbang tersebut mencerminkan efektivitas strategi pembiayaan perseroan dalam menjaga kualitas aset sekaligus mendorong sektor produktif.
Untuk memperkuat ketahanan keuangan, BNI juga membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) secara disiplin. Hingga akhir kuartal III/2025, CKPN tercatat Rp34,7 triliun dengan NPL coverage ratio mencapai 222,7 persen.
Sementara dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BNI tumbuh 21,4 persen menjadi Rp934,3 triliun. Dana murah atau CASA meningkat 13,3 persen secara tahunan menjadi Rp613,4 triliun, memperkuat struktur pendanaan perseroan.(Tim)









