PETI Menggila di Jambi, 44 Ribu Hektare Hutan Ludes

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 4 Januari 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KLIKINAJA, JAMBI – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Provinsi Jambi kembali memicu alarm darurat lingkungan. Catatan terbaru Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi menunjukkan kerusakan hutan akibat tambang ilegal telah menembus angka 44.387 hektare hingga penghujung 2025.

Sebaran kerusakan tersebut tidak terjadi secara merata. Kabupaten Sarolangun tercatat sebagai wilayah dengan tekanan paling berat, menyumbang hampir sepertiga dari total hutan yang rusak.

Aktivitas tambang yang berlangsung masif di daerah ini meninggalkan bentang alam yang berubah drastis, dari kawasan hijau menjadi lahan terbuka berlumpur.

Sarolangun Jadi Episentrum Kerusakan

Di Sarolangun saja, luas hutan yang terdampak PETI di perkirakan mencapai 14.900 hektare. Metode tambang cepat dengan penggunaan alat berat menjadi faktor utama. Pola ini mempercepat produksi emas, namun menghancurkan struktur tanah, merusak tutupan hutan, dan memicu longsor di sejumlah titik.

Kerusakan daratan tersebut tidak berhenti di kawasan hulu. Material galian, lumpur, serta sisa bahan kimia ikut terbawa aliran air. Sungai-sungai kecil yang bermuara ke Batanghari menjadi jalur penyebaran pencemaran, memperluas dampak ekologis hingga lintas kabupaten.

Baca Juga :  Danau Linting Crystal View: Pesona Tersembunyi Deli Serdang yang Lagi Viral di TikTok

Sungai Batanghari Terancam Logam Berat

Dampak paling mengkhawatirkan terlihat pada Sungai Batanghari. Sungai terpanjang di Sumatra itu terindikasi tercemar merkuri, logam berat yang lazim di gunakan dalam proses pemisahan emas di tambang ilegal. Pencemaran ini menjadi ancaman langsung bagi jutaan warga yang menggantungkan kebutuhan air, perikanan, dan pertanian pada sungai tersebut.

Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah, menggambarkan situasi ini sebagai akumulasi masalah lama yang belum terselesaikan.

“Aktivitas PETI telah berlangsung bertahun-tahun, sementara upaya pemulihan lingkungan berjalan jauh lebih lambat di banding laju kerusakan yang terjadi di lapangan,” ujar Oscar.

Oscar juga menyoroti pola penanganan yang di nilai belum konsisten. Penertiban kerap di lakukan, namun bersifat sporadis. Setelah operasi selesai, aktivitas tambang sering kembali muncul dengan pola yang sama.

Baca Juga :  Gubernur Al Haris Beri Penghargaan Tokoh Kerinci Amrunas Hadis, Dorong Program MBG

“Situasi ini mencerminkan masih lemahnya pengawasan dan penegakan hukum terhadap jaringan PETI,” katanya.

Menurutnya, kerusakan di kawasan hulu sungai membawa efek berantai. Ketika hutan hilang dan sungai tercemar, masyarakat di wilayah hilir ikut menanggung konsekuensi.

“Kualitas air menurun, hasil tangkapan ikan berkurang, dan risiko kesehatan meningkat akibat paparan logam berat dalam jangka panjang,” sebutnya.

WALHI mendorong pemerintah daerah dan aparat penegak hukum menjadikan persoalan PETI sebagai agenda prioritas. Langkah yang di butuhkan bukan sekadar penertiban sesaat, melainkan kebijakan tegas dan berkelanjutan yang menyentuh akar persoalan, mulai dari pengawasan wilayah hingga penindakan terhadap aktor utama tambang ilegal.

Oscar menegaskan, pembiaran hanya akan memperbesar beban lingkungan di masa depan. “Kerusakan yang terjadi hari ini berpotensi di wariskan kepada generasi berikutnya, sementara biaya pemulihan akan semakin mahal dan kompleks jika tidak segera di tangani secara serius,” pungkasnya.(Tim)

Berita Terkait

Pria 45 Tahun di Kerinci Terseret Arus Sungai Pulau Lebar Saat Memancing
Harga Sembako Jambi Terjaga, Polisi Intensif Awasi Pasar Jelang Ramadan 2026
Ratusan Kepala SMA-SMK Jambi Jalani Tes Kejiwaan Februari 2026
Debit Danau Kerinci Menyusut, DPRD Panggil PLTA untuk Klarifikasi
Bupati Kerinci Hadiri Rakornas 2026 di Sentul
Operasi Keselamatan Siginjai 2026 Dimulai, Polda Jambi Bidik 9 Pelanggaran Lalu Lintas
Pemkab Merangin Salurkan 1.700 Paket Perlengkapan Sekolah Gratis
Harga Kelapa Anjlok di Tanjabtim, Cuaca Ekstrem Tekan Panen Petani
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 20:00 WIB

Pria 45 Tahun di Kerinci Terseret Arus Sungai Pulau Lebar Saat Memancing

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:00 WIB

Harga Sembako Jambi Terjaga, Polisi Intensif Awasi Pasar Jelang Ramadan 2026

Selasa, 3 Februari 2026 - 18:00 WIB

Ratusan Kepala SMA-SMK Jambi Jalani Tes Kejiwaan Februari 2026

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:00 WIB

Bupati Kerinci Hadiri Rakornas 2026 di Sentul

Selasa, 3 Februari 2026 - 13:00 WIB

Operasi Keselamatan Siginjai 2026 Dimulai, Polda Jambi Bidik 9 Pelanggaran Lalu Lintas

Berita Terbaru