KLIKINAJA – Anggota DPR RI Komisi XII dari Fraksi Partai NasDem, Sy Fasha, menyoroti masih timpangnya akses listrik di sejumlah wilayah terpencil Indonesia. Ia mendorong pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berbasis rumah tangga sebagai jalan keluar paling realistis bagi kawasan 4T – wilayah tertinggal, terpencil, terjauh, dan minim kepastian layanan dasar.
Sy Fasha mengungkapkan, hingga kini masih banyak masyarakat di pedalaman Jambi, Kalimantan, dan daerah terpencil lainnya yang belum menikmati listrik. “Kondisi itu memaksa sebagian warga bertahan dengan penerangan seadanya, termasuk menggunakan lampu minyak untuk aktivitas sehari-hari,” katanya.
Menurut mantan Wali Kota Jambi dua periode tersebut, persoalan listrik di wilayah 4T bukan hal baru, tetapi belum di tangani dengan pendekatan yang tepat. “Karakter geografis dan sebaran penduduk yang sangat jarang membuat solusi konvensional menjadi sulit di terapkan,” sebutnya.
Ia menggambarkan kondisi di lapangan sebagai situasi yang mendesak. Bagi masyarakat pedalaman, listrik bukan sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan dasar yang berdampak langsung pada pendidikan, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi keluarga.
PLTS Rumah Tangga Dinilai Paling Masuk Akal
Sy Fasha menilai, memaksakan pembangunan jaringan listrik PLN ke wilayah dengan jumlah penduduk sangat terbatas justru berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran. “Jarak antar rumah yang berjauhan serta medan yang sulit membuat biaya infrastruktur melonjak tinggi,”ungkapnya.
Dalam pandangannya, beban tersebut tidak sebanding dengan jumlah pelanggan yang di layani. Ia menyebut, ada desa yang hanya di huni belasan kepala keluarga, namun membutuhkan penarikan jaringan listrik sepanjang puluhan kilometer.
Karena itu, ia mendorong pendekatan berbeda melalui PLTS atap per rumah tangga. Skema ini di nilai lebih efisien, cepat di pasang, dan manfaatnya langsung di rasakan masyarakat tanpa menunggu pembangunan jaringan besar.
Ia menegaskan bahwa yang di butuhkan wilayah 4T bukanlah pembangkit skala kawasan, melainkan solusi praktis yang menyentuh langsung kebutuhan warga. Dengan PLTS rumah tangga, masyarakat bisa segera menikmati listrik untuk penerangan, pengisian daya, hingga kebutuhan produktif sederhana.
Kebutuhan PLTS berbasis rumah tangga, menurut Sy Fasha, sangat besar dan tersebar luas. Jambi hanyalah salah satu contoh, sementara wilayah pedalaman Kalimantan, Sumatra, hingga kawasan timur Indonesia menghadapi tantangan serupa.
Di tingkat kebijakan, ia berharap pemerintah pusat memberi perhatian lebih serius terhadap pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat. “Dukungan anggaran dan regulasi yang tepat di nilai menjadi kunci agar pemerataan energi tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar hadir di pelosok negeri,” pungkasnya.(Tim)









