KLIKINAJA – Produksi sampah di Kota Jambi terus menunjukkan tren peningkatan. Setiap hari, timbunan limbah yang di hasilkan warga mencapai 350 hingga 400 ton dan seluruhnya harus di tangani melalui sistem pengangkutan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Data tersebut di sampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jambi, Mahruzar, yang menyebut lonjakan jumlah penduduk sebagai salah satu pemicu utama. Pertumbuhan kawasan permukiman dan aktivitas ekonomi membuat volume sampah meningkat dari tahun ke tahun.
Menurut Mahruzar, jika di bandingkan beberapa periode sebelumnya, beban sampah yang masuk ke TPA saat ini jauh lebih besar. Kondisi ini menuntut pengelolaan yang lebih serius agar tidak menimbulkan masalah lanjutan di kemudian hari.
Sampah Rumah Tangga Masih Mendominasi
DLH mencatat, sumber sampah terbesar masih berasal dari rumah tangga. Limbah organik seperti sisa makanan bercampur dengan plastik sekali pakai yang sulit terurai. Pola ini menunjukkan kebiasaan memilah sampah di tingkat rumah tangga belum berjalan optimal.
Konsumsi produk kemasan sekali pakai turut mempercepat penumpukan sampah. Tanpa perubahan perilaku, timbunan tersebut akan terus bertambah dan memperpendek usia pakai TPA.
Mahruzar menilai, persoalan sampah bukan hanya urusan teknis pengangkutan. Cara masyarakat memperlakukan sampah sejak dari rumah menjadi faktor penentu besar kecilnya volume yang akhirnya di buang.
Risiko Lingkungan dan Upaya Pengendalian
Jika tidak di kelola dengan benar, tumpukan sampah berpotensi menimbulkan dampak serius. Pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, hingga penurunan kualitas hidup warga sekitar TPA menjadi ancaman nyata yang harus di antisipasi sejak dini.
DLH Kota Jambi terus melakukan berbagai pembenahan. Armada pengangkut sampah di optimalkan agar tidak terjadi penumpukan di permukiman. Di sisi lain, penguatan sistem pemilahan sampah mulai didorong agar volume yang masuk ke TPA bisa ditekan.
Edukasi kepada masyarakat juga menjadi perhatian utama. Warga diajak mengurangi sampah dari sumbernya, terutama dengan membatasi penggunaan plastik sekali pakai dan memanfaatkan kembali barang yang masih bisa di gunakan.
Dalam konteks yang lebih luas, persoalan sampah perkotaan bukan hanya di alami Kota Jambi. Banyak kota berkembang menghadapi tantangan serupa, seiring pertumbuhan penduduk yang tidak selalu diimbangi kesadaran lingkungan. Pengelolaan sampah berbasis partisipasi publik di nilai sebagai pendekatan yang paling realistis untuk jangka panjang.
Mahruzar menegaskan, pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci agar pengelolaan sampah berjalan efektif dan lingkungan Kota Jambi tetap terjaga.(Tim)









