KLIKINAJA – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi angkat suara menyusul turunnya permukaan air Danau Kerinci dalam beberapa hari terakhir.
Organisasi lingkungan ini menilai kondisi tersebut bukan sekadar perubahan alam biasa, melainkan tanda lemahnya pengelolaan sumber daya air yang berisiko merusak keseimbangan ekosistem dan kehidupan warga di sekitarnya.
Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah, mengungkapkan bahwa penyusutan air mencapai sekitar satu meter di beberapa bagian tepi danau. Ia menilai penurunan drastis itu terjadi dalam waktu singkat dan patut menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Fenomena tersebut, menurut WALHI, kuat di duga berkaitan dengan aktivitas uji coba turbin proyek PLTA Kerinci Merangin Hidro yang berlangsung sejak awal hingga pertengahan Januari 2026.
“Surutnya air Danau Kerinci bukan peristiwa biasa. Ini menjadi alarm keras bahwa pengelolaan sumber daya air di kawasan tersebut belum berjalan dengan prinsip kehati-hatian lingkungan,” ujar Oscar belum lama ini.
Dampak di lapangan pun sudah terasa. Sejumlah nelayan mengeluhkan area tangkapan ikan yang makin menyempit, sementara kualitas air menurun seiring surutnya permukaan danau. Beberapa sumber air yang biasa di manfaatkan masyarakat sekitar juga mulai mengalami kekeringan.
Kondisi ini berpotensi memperparah tekanan ekologis Danau Kerinci yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi warga pesisir danau, mulai dari perikanan tradisional hingga pariwisata alam.
WALHI Jambi mendorong pemerintah daerah bersikap lebih terbuka terkait operasional proyek PLTA, khususnya data teknis uji coba turbin yang di duga memicu penurunan debit air. Organisasi ini juga menuntut di lakukan kajian lingkungan secara menyeluruh agar aktivitas pembangunan tidak mengorbankan fungsi alami danau.
Jika situasi ini terus di biarkan, kerusakan jangka panjang di nilai sulit di hindari. Hilangnya habitat ikan lokal, rusaknya rantai ekosistem perairan, hingga ancaman krisis air bersih menjadi risiko nyata yang mengintai ribuan warga sekitar Danau Kerinci.
Sebagai kawasan penyangga kehidupan dan sumber ekonomi masyarakat, Danau Kerinci membutuhkan perlindungan berbasis kebijakan lingkungan yang ketat, bukan sekadar menjadi objek eksploitasi energi tanpa pengawasan berkelanjutan.(Tim)









